Pimpin Pasar Alat Laboratorium, IKA Mixer Dibanderol dengan Harga Bervariasi

Harga Alat Laboratorium IKA Mixer

Bagi yang bergerak di laboratorium atau kesehatan tentunya sudah tidak asing lagi dengan IKA. teknologi laboratorium asal Jerman ini menawarkan beragam inovasi alat untuk di bidang maupun pengembangan. Tak heran jika ika mulai dari mixer (pencampur), pemanas, hingga penghancur sudah banyak digunakan di sejumlah negara, termasuk .

“IKA telah mendapatkan posisi percontohan di pasar dunia dengan inovasi pengaduk magnetik, alat pencampur, overhead stirrers, shaker, homogenizer, penggiling, rotary evaporator, kalorimeter, reaktor laboratorium, dan perangkat lunak pengembang khusus untuk laboratorium dan aplikasi analisis,” demikian bunyi klaim IKA di resminya.

IKA menawarkan beragam produk mixer yang berkualitas, misalnya seperti IKA 33400000 Vortex Genius 3 Mixer yang dijual dengan Rp 5,3 juta, kemudian ada IKA Lab Dancer Test Tube Mixer 3365000 seharga Rp 2,5 jutaan, IKA RW 20 Digital Overhead Rp 10,4 juta, IKA RW-20 D D S001 Digital Dual Range Mixer Rp 9 juta, dan masih banyak lagi.

Hingga kini pasar alat kesehatan di Indonesia masih didominasi oleh produk asing mencapai 92%. “Policy pemerintah perlu terus diperhatikan karena memang saat ini masih lebih banyak distributor alkes daripada industrinya,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia Ade Tarya Hidayat, seperti dilansir Bisnis.

Pada tahun 2018 ini, permintaan produk alat kesehatan di dalam negeri diprediksi mencapai Rp 27 triliun, atau naik 10% dibanding nilai pasar alat kesehatan tahun 2017 lalu yang mencapai Rp 24 triliun. Menurut Ade, pasar dalam negeri bertumpu pada kenaikan belanja pemerintah untuk pengadaan alat kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. “Porsi belanja pemerintah dalam JKN untuk alat kesehatan masih yang paling besar, sekitar Rp 17 triliun,” katanya.

Selain alat kesehatan, bisnis penunjang kesehatan termasuk sektor farmasi juga mengalami peningkatan berkat adanya program JKN. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa produsen farmasi lokal dapat memasuk sekitar 70% obat-obatan dalam negeri. Sementara itu, nilai pasar produk farmasi di Indonesia diperkirakan sebesar USD 4,7 miliar, atau 27% nilai pasar farmasi di seluruh kawasan Asean.

Loading...