Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Konsumsi di Asia Lebih ‘Masuk Akal’

Pertumbuhan ekonomi di seluruh Asia, termasuk , , dan telah melemah sekitar 2 hingga 4 persen pada tahun 2015. Sementara, populasi di diperkirakan menyusut pada pertengahan tahun 2020-an karena demografi penuaan. Pergeseran ini tampaknya menjelaskan alasan perpindahan belanja mewah menjadi yang lebih “masuk akal” di kawasan tersebut.

Menurut survei Nikkei, di Malaysia, rantai yang menggabungkan diskon dan pusat perbaikan rumah tumbuh pesat menjadi 60 selama tahun 2016. Hampir 240 toko di seluruh Malaysia menjual segala produk dengan yang relatif rendah, termasuk 30.000 produk barang-barang kebutuhan rumah tangga. Pengecer barang bekas, Bookoff, dari Jepang juga menarik perhatian sejak dibuka pada bulan November, yang menjual pakaian bekas dan barang-barang preowned lainnya.

Sementara, untuk kategori smartphone, handset murah dengan fungsionalitas serta gambar berkualitas baik banyak diburu konsumen Asia. Di China, merek ponsel Oppo meraih popularitas yang tinggi, seperti halnya handset Vivo buatan Vivo Communication Technology. Di India, ponsel produk lokal mencapai 60 persen dari keseluruhan yang tembus 100 juta unit. Di Myanmar, smartphone dengan harga tidak lebih dari 77 dolar AS cukup diminati.

Dalam makanan, stand makanan jalanan di Singapura, Michelin, telah membuat orang rela mengantre. Sementara, di Indonesia, produk mi instan bernama Bakmi Mewah, yang mencakup ayam, menjadi hits. Dibandingkan produk mi instan kebanyakan, Bakmi Mewah menjadi populer karena menawarkan sensasi menikmati hidangan ala restoran.

Di industri hiburan, konten Jepang masih memperoleh popularitas tinggi di kawasan Asia. Pokemon Go telah menjadi fenomena sosial di Asia, termasuk di Vietnam, Thailand, dan Taiwan. Sementara, animasi “Nama” memikat hati remaja di Taiwan dan Thailand. Di China, ini bahkan meraih pendapatan sekitar 76,1 juta dolar AS atau 530 juta yuan, sekaligus menjadikannya Jepang paling laris.

Loading...