Pertumbuhan Ekonomi China Diprediksi 6,4% di tahun 2017

HONG KONG – Pertumbuhan diprediksi masih akan terus melambat secara bertahap di tahun 2017 mendatang, demikian hasil survei yang dilakukan terhadap beberapa ekonom. Perlambatan di antaranya disebabkan oleh koreksi pasar perumahan, pelarian , dan kebijakan Presiden AS terpilih, Donald Trump.

Perkiraan pertumbuhan produk bruto riil China pada tahun 2017 rata-rata 6,4 persen, menurut jajak pendapat yang dilakukan Nikkei Inc dan NQN. Meski pada tahun 2016 pertumbuhan menunjukkan angka 6,7 persen, lebih tinggi dari target yang di angka 6,5 persen, namun China masih menyimpan utang untuk kebijakan , seperti belanja , keringanan , dan juga properti.

“Pertumbuhan telah berlangsung lambat, salah satunya karena kenaikan indeks produsen, yang mencakup beberapa item, seperti baja dan batubara,” kata Ekonomi China di KGI Asia, Ken Chen. “Perekonomian China masih jauh dari kata menggembirakan.”

Pemerintah China sendiri diharapkan untuk memprioritaskan stabilitas ekonomi dengan melakukan reformasi struktural menjelang kongres nasional Partai Komunis pada musim gugur mendatang. “Beijing kemungkinan tidak ingin menempatkan stabilisasi makroekonomi yang penuh risiko,” timpal Ekonom Senior di ABN AMRO Bank, Arjen van Dijkhuizen.

Risiko keuangan diyakini akan tinggi pada Central Economic Work Conference pada tahun 2017 ketika arah kebijakan ekonomi akan diatur. Mayoritas responden mengharapkan People’s Bank of China menunda pelonggaran moneter dalam rangka mengekang masuknya uang ke pasar real estate. “Dukungan kebijakan bagi perekonomian kemungkinan difokuskan pada kebijakan fiskal dan bukan pelonggaran moneter,” sambung Kepala Ekonom di Bank of Singapore, Richard Jerram.

Pasar properti di China sendiri tetap menjadi risiko paling tinggi. Harga rumah yang terus turun di beberapa kota mendorong pemerintah untuk memberlakukan pembatasan pembelian rumah. Langkah tersebut diharapkan dapat menyeret penurunan investasi perumahan dan hasilnya dialihkan ke sektor lainnya.

Sementara itu, untuk kurs yuan, ekonom memprediksi mata uang China tersebut berada di level 7,16 per dolar AS pada akhir 2017, lebih lemah 3 persen dibandingkan perkiraan untuk akhir 2016. Bank Sentral China memang telah membeli yuan untuk memperlambat pelemahan mata uang. “Namun, jika cadangan devisa negara berada di bawah 3 triliun dolar AS, maka kepercayaan pasar akan melemah,” ujar Ahli Strategi Manajemen di Sung Hung Kai Financial, Kenny Wen.

Ekonom juga menyorot Trump, yang mengambil kebijakan keras pada China. Trump disebut akan membatasi sekitar 45 persen impor China. Menurut Kepala Peneliti Ekonomi China di Standard Chartered Bank (HK), Ding Shuang, gerakan anti-globalisasi dapat menempatkan tekanan pada ekspor China. “Pemerintahan Trump mengenakan tarif hukuman pada barang dari China untuk menenangkan pendukung,” katanya.

Loading...