Permintaan Domestik Tinggi, Indonesia & Filipina Pimpin Pertumbuhan di ASEAN

pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tengara - www.mediaindonesia.com

KUALA LUMPUR – dan diprediksi akan memimpin pertumbuhan Tengara pada tahun 2018 ini, didorong oleh yang tinggi serta peluncuran berbagai infrastruktur. Sementara, Malaysia juga bersiap untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, menyusul proyeksi kenaikan suku bunga di bulan Januari.

Menurut studi Norman Securities, seperti dikutip Nikkei, pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2018 ini akan ditopang oleh yang lebih tinggi dan reformasi di sektor . Produk domestik bruto (PDB) diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,6 persen pada tahun ini, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, namun masih di atas angka 5,2 persen di tahun 2017.

Sementara itu, di Filipina, Nomura memperkirakan pertumbuhan PDB negara tersebut akan meningkat dari 6,7 persen pada tahun 2017 menjadi 6,9 persen di tahun ini, didasarkan pada kenaikan ekonomi yang mendorong permintaan domestik. Reformasi pajak juga diharapkan dapat mendorong pundi-pundi pemerintah, sekaligus membuka jalan bagi proyek infrastruktur dan belanja konsumen.

Nomura juga menaikkan perkiraan indeks harga konsumen negara tersebut dari 3,9 persen di tahun sebelumnya menjadi 4,3 persen di tahun ini, didorong oleh dampak reformasi pajak dan asumsi harga minyak mentah Brent sebesar 65 dolar AS per barel. Bank sentral Filipina diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan mereka sebesar 100 basis poin, menjadi 4 persen sepanjang tahun 2018.

“Nah, sebagai eksportir minyak dan gas, Malaysia merupakan ‘pemenang yang sesungguhnya’ di kawasan ASEAN,” kata ekonom Nomura, Brian Tan. “Penguatan ringgit ke dolar AS telah meningkat hampir 10 persen sepanjang tahun 2017, sekaligus melampaui perkiraan. Perekonomian negara tersebut diperkirakan akan tumbuh 5,5 persen, didorong oleh ekspor dan belanja di sektor swasta.”

Tan menambahkan, bank sentral Malaysia diharapkan dapat menormalisasi kebijakan moneter akomodatif pada bulan ini, menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,25 persen sebelum pemilihan umum yang akan datang. Pasalnya, kenaikan suku bunga setelah pemilu tidak mungkin dilakukan karena pemerintah akan memperketat posisi fiskal mereka untuk memenuhi target defisit anggaran sebesar 2,8 persen dari PDB.

“Sebaliknya, PDB di Singapura akan melaju pada tingkat yang lebih lambat menjadi 2,2 persen pada tahun ini, turun dari 3,2 persen di tahun 2017, dengan ekspor semikonduktor yang mendasari pertumbuhan,” sambung Tan. “Di Thailand, tingginya utang rumah tangga akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan konsumsi pribadi.”

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top