Permintaan Dolar Masih Tinggi, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - www.tangandiatas.comRupiah - www.tangandiatas.com

JAKARTA – Setelah sempat dibuka menguat tajam, rupiah akhirnya harus menutup Jumat (26/6) di zona merah, ketika gerak relatif stabil karena permintaan aset tersebut cenderung meningkat pada akhir bulan. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.57 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 45 poin atau 0,32% ke level Rp14.220 per dolar AS.

Sementara itu, yang dirilis pukul 10.00 WIB menetapkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.239 per dolar AS, terdepresiasi 8 poin atau 0,06% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.231 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang mengungguli greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,47% dialami won Korea Selatan.

“Rupiah akan bergerak terbatas pada perdagangan akhir pekan ini meskipun masih dikelilingi sentimen negatif,” tutur Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, disalin Bisnis. “Pelaku kembali cemas dengan perkembangan penyebaran COVID-19 yang belum kunjung reda, bahkan di beberapa terdapat lonjakan kasus baru, membuat prospek pertumbuhan global diyakini melambat.”

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau relatif bergerak stabil pada akhir pekan, karena kehati-hatian atas kenaikan cepat dalam kasus di AS meragukan pembukaan kembali ekonomi, menjaga daya tarik aset safe haven. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,100 poin atau 0,01% ke level 97,439 pada pukul 13.52 WIB, sebelum berbalik drop 0,10% pada sore hari.

Dilansir dari Reuters, sentimen lain yang mendukung greenback adalah kenaikan permintaan korporasi yang lebih luas, yang biasanya terlihat menjelang akhir bulan. Itu membantu dolar AS tetap kuat meskipun aset berisiko terlihat rebound di pasar ekuitas global, bahkan ketika ada lonjakan infeksi coronavirus baru. “Ketika Anda melihat hal-hal seperti data pemesanan restoran, sepertinya mereka kembali ke titik awal setelah pemulihan yang kuat,” kata Direktur Valas di Societe Generale, Kyosuke Suzuki.

Data pada hari Kamis (25/6) menunjukkan permintaan yang lemah, memaksa pengusaha AS untuk memberhentikan pekerja, mempertahankan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran yang sangat tinggi, bahkan ketika bisnis telah dibuka kembali. Klaim awal untuk tunjangan pengangguran negara berada di 1,48 juta yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 20 Juni, turun 60.000 dari minggu sebelumnya, tetapi masih dua kali lipat dari Great Recession 2007-2009.

Loading...