Perlu Pola Pikir Baru Untuk Cegah Ekstremisme Meluas di Asia Tenggara

Serangan terorisme dari ekstremis Islam (ISIS) yang makin marak akhir-akhir ini memang sangat mengganggu ketenteraman , terutama di negara kawasan Asia Tenggara. Namun alih-alih menghadapi dengan serangan , pola pikir baru harus dibangun untuk membendung pengaruh ekstremisme agar tidak menjalar lebih luas lagi.

telah berupaya untuk meningkatkan masa penahanan tersangka tanpa pengadilan dari satu minggu sampai enam bulan,” kata Direktur Centre for Humanitarian Dialogue untuk regional Asia, Michael Vatikiotis. “Namun, ancaman teroris ini bisa digunakan kekuatan politik konservatif untuk memutar kembali ruang demokrasi dan kepastian di tersebut.”

Ditambahkan Vatikiotis, ada beberapa pendekatan yang lebih efektif untuk memerangi ekstremisme meski memang akan sangat menantang. “Pertama, harus mengelola secara cermat kerukunan antar-umat beragama di wilayahnya,” katanya.

“Lalu, perhatian yang besar juga harus diberikan kepada pendidikan agama,” lanjut Vatikiotis. “Ini bukan hanya tentang masalah moderasi atau menyeimbangkan kurikulum agama, namun berbicara tentang fakta bahwa Muslim dan non-Muslim telah hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad.”

Sementara untuk daerah Muslim di dan , Vatikiotis mengatakan bahwa tidak adanya dialog politik yang kredibel bisa menciptakan risiko konflik yang cukup besar. “Pendekatan yang diambil pemerintah pusat di dan Manila hingga saat ini lebih memprioritaskan pengamanan kedaulatan teritorial daripada dialog yang bermakna atau komitmen yang tulus untuk otonomi,” sambungnya.

Front Pembebasan Islam Moro telah bernegosiasi selama dua puluh tahun dengan Manila untuk pengesahan hukum di Pulau Mindanao. “Ribuan pemuda Muslim Moro yang sudah kehabisan kesabaran dengan tidak adanya dividen perdamaian rentan terhadap pengaruh ideologi ekstremis melalui dan mereka,” lanjut Vatikiotis.

Loading...