Perhatian Terpusat pada RUU Pajak AS, Rupiah Bertengger di Zona Merah

rupiah - indonesiaexpat.bizrupiah - indonesiaexpat.biz

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (20/12) dengan pelemahan sebesar 8 poin atau 0,06 persen ke posisi Rp 13.584 per AS. Kemarin, Selasa (19/12), ditutup terapresiasi 0,04 persen atau 5 poin ke level Rp 13.576 per dolar AS setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.565 hingga Rp 13.591 per dolar AS.

Pagi ini, indeks dolar AS diperdagangkan bervariasi terhadap sejumlah utama. Di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, dolar AS turun 0,27 persen menjadi 93,446. USD diperdagangkan bervariasi seiring dengan aksi para yang tengah menanti kelanjutan RUU Amerika Serikat.

Kongres yang dikuasai Partai Republik memulai pemungutan suara mengenai perubahan sistem perpajakan AS dalam lebih dari 30 tahun pada Selasa waktu setempat. Beberapa masih ragu terkait dampak keseluruhan dari rencana perombakan pajak terhadap yang kemungkinan tidak akan sebesar seperti yang diharapkan.

Sementara itu, dari sektor ekonomi Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan swasta AS dimulai pada November 2017 berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman sebesar 1,297 juta unit, melebihi prediksi . Angka tersebut sekaligus menunjukkan kenaikan sebesar 3,3 persen di atas perkiraan Oktober 2017 yang direvisi sebesar 1,256 juta dan 12,9 persen di atas tingkat November 2016 di angka 1,149 juta.

Di sisi lain, besarnya kemungkinan disetujuinya RUU Pajak di AS diprediksi menjadi sentimen negatif bagi rupiah. “Kemungkinan agak melemah kalau RUU Pajak disetujui,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Ekonom PT Bank Mandiri Tbk, seperti dilansir Kontan.

Terlebih karena saat ini tak ada data-data domestik yang dapat mendukung gerak rupiah di pasar spot. Oleh sebab itu Rully memperkirakan jika sentimen penggerak mata uang Garuda diperkirakan berasal dari faktor global, terutama pembahasan RUU Pajak AS.

Sedangkan Nizar Hilmy, Analis PT Soe Gee Futures menilai jika rupiah memang akan selalu melemah pada akhir tahun. Akan tetapi hal ini bukan disebabkan karena kondisi ekonomi dalam negeri yang memburuk, tetapi tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan liburan atau tutup buku perusahaan. “Kinerja ekonomi cukup bagus, semua data ekonomi Indonesia bagus,” pungkas Nizar.

Loading...