Perbankan Indonesia Perlu Memperluas Jaringan ke Luar Negeri

Mereformasi sektor perbankan Indonesia, salah satunya dengan memperluas jaringan ke luar negeri, merupakan langkah yang penting guna menghidupkan kembali negara yang . Demikianlah topik utama sebuah forum diskusi yang diselenggarakan majalah Euromoney di Jakarta, Selasa (22/3).

Konsultan McKinsey & Co. yang berbasis di Amerika Serikat, Guillaume de Gantes, mengungkapkan bahwa sektor perbankan Indonesia sebenarnya merupakan “ terfragmentasi” dengan keuntungan dan biaya tinggi, bahkan salah satu yang tertinggi di dunia. “Sayangnya, dengan yang potensial, bank-bank di Indonesia lambat untuk memperluas jaringan ke luar negeri jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan ,” ujarnya.

Dengan pembentukan Masyarakat Ekonomi (MEA) yang bertujuan meningkatkan kegiatan ekonomi di Asia Tenggara, diharapkan dapat meningkatkan permintaan untuk perbankan lintas-perbatasan. “MEA akan menjadi peluang besar bagi perbankan Indonesia untuk memperluas jaringan ke luar negeri,” kata Wakil Presiden Senior Treasury Bank Mandiri, Darmawan Junaidi.

Sementara itu, perbankan di Indonesia saat ini sedang berada di bawah tekanan untuk menurunkan tingkat usai pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun di bawah 5% pada tahun 2015 lalu, atau penurunan kelima secara beruntun. Untuk menghidupkan kembali pertumbuhan, telah memangkas acuan sebanyak tiga kali sejak Januari lalu.

“Kami berharap di masa depan, tingkat deposito akan menurun lebih cepat dan akan ada lebih banyak penyesuaian, sehingga suku bunga kredit juga bisa menyesuaikan,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, di sela-sela acara. “Kami akan memperhatikan rangka operasi moneter untuk memastikan transmisi kebijakan moneter kami efektif tecermin di pasar.”

Selain itu, tahun lalu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah meluncurkan program “branchless banking” yang memungkinkan pemberi pinjaman menunjuk pihak ketiga untuk menawarkan layanan perbankan. “Program ini akan membantu memangkas biaya operasional yang tinggi, terutama di daerah luar Jawa,” jelas Wakil Komisaris Pengawasan Perbankan di OJK, Boedi Armanto.

Di sisi lain, peserta forum juga memperingatkan bank-bank akan ancaman potensial dari layanan pembayaran online yang semakin marak sebagai salah satu bagian dari aktivitas belanja online. “Ada peluang besar untuk mendorong efisiensi perbankan elektronik,” kata perwakilan MasterCard untuk wilayah Asia-Pasifik, Matthew Driver.

Loading...