Penjualan Rumah AS Melonjak, Rupiah Berakhir Melemah 0,2%

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – harus terjungkal ke area merah pada Rabu (23/9) sore, bersama dengan mayoritas mata uang , setelah greenback melaju kencang di zona hijau karena data ekonomi AS terbaru dilaporkan membaik. Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 30 poin atau 0,2% ke level Rp14.815 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.835 per dolar AS, terdepresiasi 0,35% dari sebelumnya di level Rp14.782 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia terkapar di hadapan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,34% dialami rupiah.

“Pelemahan rupiah tertekan oleh rencana amandemen UU Bank Indonesia yang membuat investor khawatir mengenai independensi bank sentral,” ujar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir dari Bisnis. “ kembali kecewa dan berimbas terhadap aliran modal asing dilaporkan mulai keluar dari valas, dan Surat Utang Negara (SUN), yang tentunya bisa memberikan efek negatif ke pasar keuangan.”

Dari pasar global, indeks dolar AS menguat terhadap mata uang utama pada hari Rabu, didukung oleh data ekonomi AS yang positif dan kekhawatiran mengenai gelombang kedua infeksi virus corona di Eropa dan Inggris. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,204 poin atau 0,22% menuju level 94,192 pada pukul 13.24 WIB.

Dilansir Reuters, greenback didukung oleh data yang menunjukkan penjualan rumah AS melonjak ke level tertinggi dalam hampir 14 tahun pada bulan Agustus, tetapi komentar dari seorang pejabat Federal Reserve terkemuka mengirimkan sinyal beragam. Fed Chicago, Charles Evans, menuturkan bahwa ekonomi AS mengambil risiko pemulihan yang lebih lama, lebih lambat, dan dinamika resesi jika Kongres gagal untuk meloloskan paket stimulus fiskal tambahan.

Di belahan dunia yang lain, sentimen untuk euro perlahan melemah karena investor semakin khawatir tentang lonjakan infeksi virus corona di negara-negara seperti Prancis dan Spanyol, meningkatkan risiko lockdown baru. Banyak negara zona Eropa telah memberlakukan kembali pembatasan , memaksa maskapai penerbangan untuk mengurangi layanan penumpang setelah yang relatif cepat selama musim panas.

Loading...