Pendapatan Naik, Konsumsi Masyarakat Indonesia Tumbuh di 2018

Pendapatan Naik - sleekr.coPendapatan Naik - sleekr.co

JAKARTA – Memasuki tahun 2018 ini, peningkatan rumah tangga masyarakat diprediksi bisa mendorong mereka untuk berbelanja. rumah tangga yang lebih tinggi ini, khususnya di perkotaan, diharapkan mampu mendorong konsumsi yang lebih cepat, meski hal tersebut bergantung bagaimana kinerja yang juga dipengaruhi pengetatan kebijakan moneter di beberapa negara maju.

Menurut survei terbaru dari FT Confidential Research, seperti dikutip Nikkei, seribu warga di 25 kota di Indonesia mengungkapkan bahwa persepsi konsumen terhadap pendapatan mereka meningkat secara dramatis di kuartal ketiga 2017 lalu. Meski demikian, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06 persen, lebih rendah dari ekspektasi pemerintah dan yang berharap bisa mencapai 5,2 persen.

yang mengecewakan ini lantas diikuti kabar buruk dari beberapa peritel. Pada bulan Oktober 2017, merek department store asal Inggris, Debenhams, mengumumkan akan menghentikan operasinya di Tanah Air. Sementara, Matahari dan Ramayana, ritel yang melayani konsumen berpenghasilan rendah dan menengah, masing-masing telah menutup empat dan delapan gerai mereka di tahun lalu.

Meski pertumbuhan konsumsi lebih rendah dari perkiraan, yang mengakibatkan penutupan sejumlah department store, pasar ritel Indonesia tetap berkembang. Asosiasi Ritel Indonesia memperkirakan total nilai peritel modern (berlawanan dengan pasar tradisional) mencapai Rp215 triliun pada tahun 2017, atau naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp197 triliun.

Survei Bank Indonesia juga menunjukkan penjualan ritel untuk 10 bulan pertama tahun 2017 sedikit membaik dibandingkan dengan tahun 2016, dan secara signifikan lebih baik dari tahun 2015, karena pendapatan rumah tangga mendapat keuntungan dari kenaikan pendapatan ekspor. Hingga Oktober 2017, total nilai ekspor tumbuh sebesar 17,6 persen year-on-year menjadi 138,5 miliar dolar , meningkat lebih cepat dari lima tahun sebelumnya.

Meski survei menunjukkan bahwa konsumen masih enggan membelanjakan uang untuk barang-barang yang tidak penting, tetapi pembelian barang-barang seperti kendaraan dan properti residensial akan cenderung pulih pada tahun ini. Kendaraan pribadi dianggap penting karena transportasi umum Indonesia yang masih tidak memadai, dan masih ada kekurangan hunian sebanyak 13,8 juta unit rumah.

Survei tersebut juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan permintaan properti di kuartal kedua 2018. Sebelumnya, survei bank sentral terhadap properti di 16 kota di Indonesia menunjukkan pertumbuhan rata-rata secara konsisten lebih rendah sejak kuartal keempat tahun 2013. Perlambatan ini akan berakhir secara bertahap pada kuartal kedua ketika pertumbuhan meningkat menjadi 3,2 persen, diikuti peningkatan 3,3 persen pada kuartal ketiga. Lintasan positif tersebut diperkirakan akan berlanjut di kuartal keempat.

Sementara, pertumbuhan harga diperkirakan akan berlanjut di sepanjang tahun 2018. Indeks Pembelian Otomatis menunjukkan bahwa permintaan untuk mobil penumpang akan pulih dalam beberapa bulan mendatang. Sejak 2014, konsumen telah berjuang dengan harga melonjak menyusul depresiasi kurs rupiah yang cepat. Produsen pun telah merespons dengan memperkenalkan model baru dalam setahun terakhir, dengan fokus terutama pada segmen yang lebih terjangkau.

Namun, prospek pemulihan konsumsi pada akhirnya akan bergantung pada kinerja Garuda. Cadangan devisa Indonesia turun sebesar 2,9 miliar dolar AS pada bulan Oktober 2017 dari tingkat tertinggi bulanan mereka sebesar 129,4 miliar pada September 2017, karena bank sentral bergerak untuk mempertahankan nilai tukar rupiah. Rupiah memang cenderung mendapat tekanan lebih lanjut dari pengetatan moneter yang akan datang di zona Eropa dan AS.

Karena sekitar 40 persen obligasi pemerintah dipegang oleh investor asing, ekonomi Indonesia tetap rentan terhadap guncangan arus modal. Sejarah juga menunjukkan bahwa fluktuasi rupiah terkait langsung dengan konsumsi rumah tangga. Meski demikian, Indonesia sekarang diyakini lebih baik dalam menghadapi tekanan eksternal berkat neraca pembayaran yang lebih sehat, cadangan devisa yang lebih tinggi, dan inflasi yang rendah.

Loading...