Pemotongan Suku Bunga negara Berkembang Asia harus disikapi dengan Hati-hati

Kursrupiah.net – Pada pertemuan bulanan 9 Juni lalu, Bank sentral mendapat tekanan untuk kembali memotong suku bunganya yang terakhir diproyeksikan pada angka 1,5%, menyusul publikasi ekspor yang menyatakan bahwa nilai Produk Domestik Bruto (PDB) menyusut sejak 17 bulan terakhir hingga mengikis nyaris setengahnya. Terlebih, setelah diketahui hanya menyentuh kisaran 0,8% yakni lebih rendah dari target bank dan swasta pada kontrak kuartal I 2016.

Di pasar berkembang, Korea Selatan dipandang sebagai yang cukup longgar menetapkan kebijakan pinjaman. Meski begitu, 20 berkembang sebagai pihak Debitur dikabarkan telah memotong biaya pinjaman dalam 2 bulan terakhir, termasuk Kenya, Hungaria, dan Singapura.

Tak hanya di Korea Selatan, bank sentral di negara-negara berkembang pun banyak yang memilih melonggarkan kebijakan meski suku bunga bank sentral AS () diprediksi bakal naik dalam waktu dekat. Fenomena ini sebagai buntut dari rentetan peristiwa, dimulai dari minyak sepanjang 2014-2015, perlambatan Cina, hingga kebimbangan global yang ditebar oleh Federal Reserve secara berkepanjangan.

JP Morgan Chase & Co menyatakan, data pengangguran yang dirilis Amerika Serikat bulan lalu menunjukkan bahwa cara kerja The Fed sangatlah tidak terduga.

Dibarengi penurunan harga minyak, negara-negara berkembang Amerika selatan memilih menaikkan suku bunga secara agresif selama beberapa bulan, demi mengantisipasi lonjakan inflasi. Salah satunya Meksiko, yang menaikkan suku bunga hingga 50 poin menjadi 3.75% pada pertengahan Februari lalu.

Kebalikannya justru terjadi di , dimana bank sentral masing-masing negara berbondong-bondong melakukan pelonggaran kebijakan. India disebutkan telah memotong suku bunga hingga 5 kali sejak Januari 2015 hingga tersisa 6,5%. Sementara Indonesia, telah memangkas suku bunga hingga 3 kali dalam setahun hingga menyisakan angka 6,75%.

Tidak seperti perekonomian negara berkembang di Amerika selatan yang kian sekarat, beberapa negara di Asia justru menikmati pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat. Pada 19 Mei 2016 lalu, Malaysia mencatat angka permintaan domestik yang cukup stabil, meski suku bunga terus ditahan. India bahkan diposisikan sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Berdasar Analisis JP Morgan, kondisi pasar Asia masih sangat dipengaruhi oleh Cina. Terbukti dengan depresiasi tajam mata uang Asia pasca devaluasi Renminbi, mengulang Anjloknya Yuan pada Agustus 2015 lalu. Sementara kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi Cina, menarik keluar modal hingga mencapai USD 700 miliar pada tahun ini. Di luar kedua hal tersebut, prospek pasar negara berkembang juga bergantung pada kesehatan ekonomi dunia.

Loading...