Pemindai Sidik Jari di Smartphone Rawan Pembobolan

pemindai fingerprint alias sidik jari sedang menjadi andalan beberapa vendor untuk memasarkan mereka. Sensor pengamanan biometrik yang selama ini diklaim paling aman ini ternyata masih menyisakan sejumlah kekurangan.

Kapersky Lab menyatakan dalam keterangan resminya (24/1), kualitas pemindaian sidik jari masih dapat terganggu oleh goresan, bekas luka, atau cacat kulit. Selain itu, masih banyak sensor fingerprint yang tidak bisa membedakan sidik jari asli dengan cetakan, yang mana membuka celah besar untuk pembobolan. Pemindai kapasitif lama juga sulit mengenali sidik jari yang basah, bahkan seringkali gagal bekerja dalam upaya pertama.

Permasalahan ini mungkin terselesaikan ketika Qualcomm merilis sensor ultrasonik yang menggunakan gelombang ultrasound untuk memindai gambar jari secara 3D. Namun seperti yang kita ketahui, baru selalu rentan dengan ketidaksempurnaan.

Perlu diketahui bahwa pada Agustus 2015 lalu telah ditemukan cara baru untuk mencuri sidik jari dalam skala besar. Para peneliti bahkan telah menunjukkan betapa mudahnya mengambil sidik jari seseorang dengan tanpa bertatap muka sekalipun.

Hacker dapat melakukan pembobolan hanya dengan mengambil foto beresolusi tinggi dari jari korbannya. SLR dengan lensa zoom yang baik atau bahkan sebuah foto majalah yang dicetak dalam resolusi tinggi sudah cukup untuk memberikan gambaran sidik jari dengan jelas. Cara ini juga biasa digunakan oleh para hacker untuk memalsukan iris mata.

Loading...