Pembatalan Ibadah Haji, Ekonomi Arab Saudi Makin Terpukul

Ibadah Haji - foreignpolicy.comIbadah Haji - foreignpolicy.com

RIYADH – Pembatalan keberangkatan jamaah oleh sejumlah , termasuk , imbas COVID-19 tidak hanya menimbulkan kekecewaan bagi banyak umat Muslim. Kenyataan tersebut juga menjadi pukulan telak bagi dan Arab Saudi karena ziarah umat Muslim dari seluruh dunia menjadi salah satu pendapatan penting bagi mereka selain minyak.

“Dengan banyak umat Muslim mengorbankan seluruh hidup mereka untuk melakukan salah satu kewajiban utama dalam Islam, pembatalan ini menimbulkan frustrasi,” ujar Sean McLoughlin, seorang profesor antropologi Islam yang mempelajari industri haji di Universitas Leeds di Inggris, dilansir Deutsche Welle. “Ada dampak yang sangat besar, secara psikologis dan spiritual. Dalam hal industri, itu adalah sesuatu yang sangat dikomersialkan dan sangat politis dalam banyak hal, sedangkan pada skala peziarah, ini benar-benar sangat berarti.”

Karena lembah luas yang tertutup tenda di Mina dan hotel-hotel mewah yang menjulang di sekitar Masjidil Haram di Mekah tidak bernyawa, setempat yang bergantung pada sektor ziarah senilai 12 miliar dolar AS juga merasakan kerugian. Hashim Tayeb, pedagang parfum setempat, mengaku harus menutup tokonya di kompleks mewah di depan masjid untuk sementara waktu. “Banyak restoran, tempat pangkas rambut, dan bisnis lain yang pasti terkena dampaknya, terutama agen perjalanan,” kata Tayeb.

Untuk sebuah industri yang juga mencakup ritual sepanjang tahun yang lebih kecil dan menyumbang 20% ​​dari PDB non-minyak negara itu, efek pembatasan pelancong internasional yang dilakukan pertama kali pada awal Maret telah menambah kerugian yang lebih luas. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan kontraksi 6,8% tahun ini untuk Arab Saudi sebagai akibat dari penurunan harga minyak dan kerugian lain yang ditimbulkan coronavirus.

“Menutup haji dan umrah juga merupakan pukulan bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Visi 2030 diketahui berencana untuk mendiversifikasi ekonomi jauh dari minyak,” papar McLoughlin. “Rencana-rencana itu melibatkan peningkatan jumlah jamaah haji menjadi 6 juta secara tahunan dan menjadi 30 juta orang pada akhir dekade ini. Ekonomi itu mungkin akan kembali, tetapi mustahil terealisasi pada tahun 2030.”

Dengan vaksin atau pengobatan yang efektif untuk coronavirus baru masih jauh, tidak jelas kapan pejabat setempat akan membuka kembali negara itu untuk para peziarah meskipun ada tekanan ekonomi untuk melakukannya. McLoughlin mengatakan, para peziarah, operator tur, dan hotel di Mekah bersikap seolah-olah industri akan dibuka kembali di beberapa titik pada akhir tahun ini. “Apa yang sebenarnya menjadi pertanyaan adalah kapan hal itu terjadi,” katanya.

“Reputasi Saudi memang sudah dipertanyakan oleh banyak kritik,” sambung McLoughlin. “Namun, bagi peziarah biasa, ini tidak mengalahkan cinta mereka, keinginan mereka, emosi mereka, keterikatan mereka, kerinduan mereka untuk berada di tempat-tempat suci, untuk mengunjungi rumah Tuhan dan untuk berjalan di bawah jejak Nabi Muhammad. Ini sangat signifikan untuk prospek jangka panjang pariwisata religius.”

Loading...