Saingi Gojek & Grab, Pemain Baru Tawarkan Sistem Pendapatan Lebih Baik untuk Driver

Layanan Antar Jemput Ojek Online - parenting.orami.co.idLayanan Antar Jemput Ojek Online - parenting.orami.co.id

Layanan antar-jemput menggunakan ojek yang kian tumbuh di dalam negeri, membuat Gojek dan Grab, dua yang sudah mapan, kedatangan banyak kompetitor, sebut saja Gaspol, Anterin, dan Bonceng. Mereka hadir sebagai alternatif yang diklaim memberikan pendapatan dan fasilitas yang lebih baik bagi driver serta layanan yang lebih terjangkau dan aman bagi pelanggan.

“Kami akan menjadi alternatif, baik untuk konsumen maupun pengemudi,” tandas CEO Gaspol, Lisa Subandi, kepada Nikkei Asian Review. “Antara dua decacorn yang ada (Gojek dan Grab), kami ingin menjadi alternatif yang memberikan pendapatan dan fasilitas yang lebih baik bagi pengemudi, dan wahana yang lebih terjangkau dan lebih aman bagi pelanggan.”

Dengan perkiraan untuk tumbuh tiga kali lipat menjadi 18 miliar AS pada tahun 2025 mendatang, memang banyak investor dan mencium peluang bermain di sektor ini. Bitcar Malaysia telah pindah ke pasar, sedangkan FastGo Vietnam ingin sekali masuk. Antusiasme ini pun menular ke investor lama seperti Tommy Soeharto, putra bungsu mantan Presiden Soeharto.

Selain Gaspol, Lady Jek telah beroperasi dengan menggunakan driver wanita dan hanya menerima penumpang dari kaum Hawa, sedangkan NU Jek didirikan oleh empat anggota Nahdlatul Ulama dan beroperasi di wilayah Jawa Timur. Sejumlah besar perusahaan menciptakan kompetisi lain, menarik pengemudi yang kompeten dan andal. Untuk membedakan dari pemain yang sudah mapan, banyak pendatang baru yang menjanjikan gaji dan tunjangan pengemudi yang lebih baik.

Startups Bonceng dan Anterin, keduanya mulai beroperasi dalam sekitar setahun terakhir, menggunakan model berbasis langganan untuk driver, daripada mengambil komisi 20 persen seperti Gojek dan Grab. Sebagai gantinya, pengemudi membayar yang tetap dan menyimpan apa pun yang mereka peroleh dari wahana dan layanan lain yang disediakan oleh platform.

“Model pembayaran pengemudi yang berbeda diperlukan setelah protes masal pengemudi pada tahun 2016,” kata CEO Bonceng, Faiz Noufal. “Kami kemudian menemukan bahwa keluhan utama pengemudi adalah komisi yang tidak adil, yang berdampak pada pendapatan mereka. Kami hanya mengenakan biaya bulanan Rp100.000 untuk pengemudi motor dan Rp200.000 untuk kendaraan roda empat. Bonceng tidak mengambil potongan dari setiap transaksi. Ini berarti, kami melihat driver sebagai aset, bukan hanya mitra.”

Sementara itu, Anterin menjalankan promosi yang membebankan biaya bulanan kepada pengemudi sebesar Rp150.000, tetapi memungkinkan mereka untuk menetapkan kilometer mereka sendiri. Menurut CEO Imron Hamzah, pihaknya lebih seperti pasar bagi pengguna, yang dapat memilih driver berdasarkan , tujuan, jenis kendaraan, dan jenis kelamin. “Kami menyadari bahwa masalah bagi pengemudi adalah mereka tidak dapat menetapkan . Ini menghasilkan beberapa masalah terkait insentif,” tutur Imron.

Di sisi lain, inDriver, layanan serupa asal Rusia yang memulai operasi di Bali pada bulan November kemarin, menggunakan sistem lelang. Penumpang bernegosiasi dengan pengemudi untuk perjalanan berdasarkan harga, peringkat pengemudi, dan perkiraan waktu kedatangan. Menurut perusahaan, alih-alih beberapa algoritma tidak transparan yang menentukan harga, mereka membiarkan pengguna mendapatkan penawaran yang lebih baik dalam perjalanan, sementara pengemudi dapat menghasilkan lebih banyak uang dan lebih fleksibel.

“Kami juga merasa bahwa pengemudi tidak ingin menjadikan algoritma sebagai bos lagi. Mereka ingin menjadi bos bagi mereka sendiri,” ujar juru bicara perusahaan tersebut. “Kami membantu mereka mencapai itu, karena dengan inDriver, mereka dapat membuat pilihan berdasarkan untuk setiap perjalanan dan tidak hanya mengikuti permintaan algoritmik.”

Azas Nainggolan, analis kebijakan transportasi di Forum Warga Kota Jakarta, optimis bahwa dengan sistem yang berbeda, ada peluang bagi para pemain baru di pasar ini. Namun, Willson Cuaca, co-founder dan managing partner di modal ventura East Ventures, bilang bahwa unit ekonomi tidak bekerja dengan baik (untuk pendatang baru). Mereka perlu banyak uang tunai untuk mempertahankan operasi dan mencapai skala ekonomi.

“Pendatang baru membutuhkan dana yang cukup (dan) momentum yang tepat karena keuntungan penggerak pertama tidak lagi ada,” jelas Cuaca. “Mereka pun harus mengeksekusi dalam waktu yang terkompresi. Berdasarkan pengalaman kami sebagai modal ventura, ini sulit dan membutuhkan eksekusi yang sangat tepat.”

Loading...