Pelemahan Berlanjut, Rupiah Turun Tipis di Selasa Pagi

Rupiah - www.straitstimes.comRupiah - www.straitstimes.com

JAKARTA – Pelemahan yang dialami masih berlanjut pada Selasa (18/6) pagi. Seperti diberitakan Index, mata Garuda mengawali hari ini dengan melemah tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp14.338 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi 12 poin atau 0,08% di posisi Rp14.337 per AS pada Senin (17/6) kemarin.

“Rupiah besok (hari ini) masih akan berpotensi melanjutkan pelemahan,” tutur Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Kontan. “Masalah eksternal, yaitu perang dagang dan Brexit, masih menjadi pemberat atau sumber pelemahan . Selain itu, dengan belum selesainya perang dagang AS-China, kini sudah muncul tensi dagang antara AS dan India.”

Pada 5 Juni kemarin, AS menghapus Generalized System of Preference (GSP) bagi India. Penghapusan GSP menyebabkan India harus membayar bea masuk atas produk senilai 5,6 miliar dolar AS yang diberlakukan Negeri Paman Sam mulai Minggu (16/6) kemarin. Sebelumnya, India merupakan penerima kelonggaran GSP terbesar dari AS.

India pun tidak terima, dan membalas dengan menerapkan bea masuk untuk 28 produk AS seperti kacang almond, walnut, dan apel. Kebijakan Negeri Sungai Gangga ini bisa memukul sektor pertanian AS. Pasalnya, data Departemen Pertanian AS menyebutkan, India merupakan pembeli kacang almond terbesar dengan nilai 543 juta dolar AS, atau lebih dari separuh dari total ekspor kacang almond AS.

“Jika perang dagang terus berlangsung dan bahkan skalanya lebih luas, maka dijamin perlambatan ekonomi adalah sebuah keniscayaan,” sambung Ibrahim. “Selain itu, situasi Timur Tengah yang memanas seiring dengan serangan dua kapal kargo di Selat Hormuz menjadi katalis negatif bagi pergerakan rupiah.”

Pasalnya, tambah Ibrahim, apabila situasi di Timur Tengah memanas, apalagi jika sampai mengganggu jalur pelayaran, maka akan berdampak terhadap minyak dunia. Kenaikan minyak akan menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Sebab, kenaikan komoditas ini akan membuat biaya impor semakin mahal sehingga mengancam transaksi berjalan.

Loading...