Pasca Rilis Data Pengangguran & PDB AS, Rupiah Lanjut Menguat Tipis di Pembukaan

Rupiah - visi-jabon.comRupiah - visi-jabon.com

Jakarta dibuka menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 14.139 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (28/6). Kemarin, Kamis (27/6), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 38 poin atau 0,27 persen ke level Rp 14.140 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau sedikit melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS yang mengukur the dilaporkan turun 0,03 persen menjadi 96,1858 lantaran para pelaku saat ini sedang mencerna sejumlah ekonomi utama Amerika Serikat yang beragam.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan, klaim pengangguran awal AS telah naik secara tidak terduga pada pekan lalu, mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu, yang menunjukkan melemahnya kekuatan pasar tenaga kerja di AS, demikian seperti dilansir Antara. Selain itu, pada pekan yang berakhir 22 Juni, jumlah orang Amerika yang mengajukan permohonan untuk tunjangan pengangguran naik menjadi 227.000, naik secara signifikan sebesar 10.000 dari pekan sebelumnya.

Di sisi lain, Departemen Perdagangan juga melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat tumbuh pada tingkat tahunan 3,1 persen pada kuartal pertama setelah direvisi. Angka tersebut tetap tidak berubah dari perkiraan bulan lalu, tetapi lebih tinggi dari 2,2 persen pada kuartal pertama keempat tahun 2018. Pertumbuhan konsumsi pribadi disebutkan lebih lemah setelah penyesuaian, sedangkan , ekspor, dan pengeluaran direvisi lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Rupiah sendiri berhasil menguat lantaran adanya sentimen positif dari arah negosiasi perang dagang AS dan China. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengungkapkan jika pertemuan antara AS dan China pada KTT G-20 berlangsung lancar. Meskipun peluang AS dan China benar-benar sepakat terkait negosiasi dagang memang masih belum tampak. “Akan tetapi, paling tidak, pemerintah AS tidak akan menambah kenaikan tarif impor terhadap produk asal China. Risiko perang dagang tampak mereda untuk saat ini,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail, seperti dilansir Kontan.

Loading...