Pasca Libur Tahun Baru Islam, Rupiah Menguat 11 Poin di Awal Dagang

Jakarta rupiah dibuka menguat 11 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 13.328 per dolar AS pada awal pagi hari ini, Jumat (22/9). Sebelumnya, Rabu (20/9) mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 0,02 persen atau 3 poin ke level Rp 13.282 per dolar AS usai diperdagangkan pada kisaran Rp 13.259 hingga Rp 13.285 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur perdagangan the terhadap 6 mata uang utama terpantau bervariasi. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, USD turun 0,29 persen menjadi 92,236 lantaran para pelaku pasar kini sedang mencerna berbagai Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan dari Departemen Tenaga Kerja, Kamis (21/9), pada pekan yang berakhir 16 September, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman berada di angka 259.000, turun 23.000 dari tingkat yang direvisi pekan sebelumnya. Rata-rata pergerakan selama 4 pekan mencapai 268.750, naik 6.000 dari angka rata-rata yang direvisi minggu sebelumnya.

Sedangkan Survei Prospek Philadelphia melaporkan bahwa sejumlah perusahaan mencatat perbaikan kondisi regional pada periode September 2017. Indeks aktivitas di Philadelphia naik 5 poin menjadi 23,8 dan stabil selama 14 bulan berturut-turut.

Keputusan juga saat ini menjadi hal utama yang sedang dicerna oleh . Pada Rabu (20/9) lalu The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 1-1,25% dan menyatakan jika mereka akan mulai melepas neraca sebesar 4,5 triliun dolar AS mulai Oktober 2017 sebagai langkah untuk mengakhiri kebijakan moneter longgar.

“Kami sedang memperbaiki neraca kami, karena kami merasa bahwa stimulus itu dalam beberapa hal tidak lagi dibutuhkan. Pesan dasarnya di sini adalah kinerja ekonomi AS sudah bagus,” tutur Ketua Fed, Janet Yellen, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, mata uang Garuda diperdagangkan sebesar Rp 15.909 terhadap euro pada pagi hari ini, sedangkan terhadap poundsterling rupiah diperdagangkan Rp 18.085 per poundsterling. Meski menguat, hari ini rupiah diprediksi akan melemah terutama tertekan karena hasil keputusan The Fed dan juga berkat sejumlah data ekonomi AS yang positif.

Loading...