Pasar Tenaga Kerja AS Alami Kontraksi, Rupiah Melaju di Awal Dagang

yang mengalami kontraksi pertama dalam tujuh tahun terakhir mampu dimanfaatkan untuk melenggang di awal Senin (9/10) ini. Seperti dipaparkan Index, mata uang Garuda membuka transaksi hari ini dengan menguat 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.511 per AS. Sebelumnya, spot ditutup melemah 55 poin atau 0,41% di posisi Rp13.519 per AS pada akhir Jumat (6/10) lalu.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa total gaji pekerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) Paman Sam menurun sebesar 33.000 pekerjaan pada bulan September, dengan penurunan tajam di sektor rekreasi dan perhotelan. Penurunan lapangan pekerjaan ini merupakan yang pertama sejak tahun 2010 lalu atau selama tujuh tahun.

Meski demikian, tingkat pengangguran di AS selama September 2017 turun menjadi 4,2%, atau mencapai titik terendah dalam 16 tahun terakhir. Selain itu, rata-rata penghasilan per jam untuk semua karyawan pada gaji non-pertanian swasta, naik 12 sen menjadi 26,55 dolar AS, mengalahkan konsensus pasar. Selama 12 bulan terakhir, rata-rata penghasilan per jam meningkat sebesar 74 sen atau 2,9%.

“Pasar menganggap wajar nonfarm payrolls turun karena ada ‘sidik jari’ badai Harvey dan Irma di sana,” kata kepala ekonom FTN Financial, Chris Low. “Catatan utama dari pekerjaan pagi ini adalah jangan terlalu banyak mengambil pekerjaan sampai Anda memasukkannya ke dalam konteks yang lebih luas.”

Hampir senada, Analis Monex Investindo Futures, Agus Chandra, menuturkan bahwa pasar masih menganggap wajar laporan nonfarm payrolls AS turun karena efek badai Irma dan Harvey, sehingga mereka lebih memantau data pengangguran dan upah. Bahkan, pada perdagangan Jumat malam pukul 19.48 WIB, indeks dolar AS masih sempat menguat 0,26 poin atau 0,028% menuju level 94,221.

“Data tenaga kerja yang membaik ini menguatkan sentimen hawkish Federal Reserve, sehingga menguatkan dolar AS dan menekan sejumlah mata uang lainnya, termasuk rupiah,” ujar Agus. “Pada pekan ini, mata uang domestik diprediksi akan mengalami pelemahan terbatas ke area Rp13.600 per dolar AS. Namun, kemungkinan akan melakukan intervensi jika rupiah melewati ‘batas stabil’.”

Loading...