Pasar Landungsari: Berdayakan Warga Sekitar Kelola Pasar

Pasar Landungsari Malang - (YouTube: PasarKita)Pasar Landungsari Malang - (YouTube: PasarKita)

tradisional telah dikenal sebagai pusat ekonomi bagi semua kalangan. Keberadaannya pun berpengaruh positif, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi . Tak terkecuali Landungsari , yang mulai dibangun sejak 2005 silam. Meski berstatus swasta, pasar yang dibangun di atas lahan seluas 7.950 meter persegi ini tetap memberdayakan sekitar dalam hal pengelolaannya.

“Kami memberdayakan warga sekitar sebagai kebersihan dan keamanan untuk membuat kegiatan jual beli nyaman,” ungkap Kepala Unit Pengelola Pasar Landungsari, Sunaryo.

Dia menambahkan, dinas terkait seperti Dinas Perindustrian dan (Disperindag) Malang pun masih ikut mengawasi terkait regulasi dan SOP di Pasar Landungsari. Pasar Landungsari sempat tidak beroperasi bertahun-tahun karena sepi peminat, tetapi kembali beroperasi pada 1 Mei 2017. Terlebih saat adanya relokasi Pasar Merjosari, membuat cukup banyak yang mulai tertarik ditempatkan di Pasar Landungsari.

“Banyak pedagang relokasi Pasar Merjosari yang enggan dipindahkan ke Pasar Modern Dinoyo karena beberapa hal. Apalagi bagi mereka yang menawarkan jasa selepan banyak ditolak untuk pindah ke sana, tambah Sunaryo.

Adanya Pasar Landungsari diharapkan dapat menjadi wadah untuk masyarakat meningkatkan pendapatan dengan berdagang. Apalagi pihak pengelola pasar berniat untuk membuka kesempatan pada pedagang di tempat lain untuk menempati kios Pasar Landungsari. “Produk elektronik dan peralatan bekas kan belum ada di Pasar Landungsari, makanya kami berharap ke depan bisa mengajak mereka untuk berjualan di sini,” tambahnya.

Pasar yang berlokasi di Kecamatan Dau, tepatnya di Jl. Tirto Rahayu No 72, Desa Landungsari, Malang ini menawarkan fasilitas umum seperti 13 bangunan toilet permanen dan sarana tempat ibadah yang dapat digunakan oleh pengunjung pasar. Pasar Landungsari sendiri memiliki sekitar 136 unit kios dan 138 unit lapak los dengan ukuran berbeda-beda. Tak hanya sistem sewa, para pedagang juga dapat menjalankan kios dengan sistem hak pakai dengan regulasi tertentu.

“Awalnya, sistem sewa dijalankan selama dua tahun sekali, tetapi saat ini para pedagang dapat membayar sewa per tahun seiring dengan program penyesuaian laporan anggaran desa,” pungkasnya.

Keberadaan Pasar Landungsari menjadi salah satu contoh mengenai sinergitas baik antara warga dan pemerintah setempat dalam membangun pasar tradisional di tengah maraknya pasar modern.

Loading...