Mencoba Bangkit, Industri Pariwisata Asia Tidak Bakal Sama Imbas COVID-19

Wisatawan Asia - www.freepik.comWisatawan Asia - www.freepik.com

BANGKOK/TOKYO – Sektor telah menjadi mesin untuk penciptaan lapangan kerja di , dengan The World Travel and Tourism Council memperkirakan satu dari tiga pekerjaan baru selama lima tahun terakhir diciptakan oleh tersebut. Namun, pandemi COVID-19 telah meruntuhkan pencapaian ini, bersifat permanen dalam beberapa kasus, dan diperkirakan memakan waktu hingga 2024 untuk keluar dari krisis dan kembali seperti semula.

Seperti dilansir dari Nikkei, permintaan penerbangan telah anjlok hampir nol karena pembatasan untuk menangkal penyebaran masih terus berlanjut. Sementara, tingkat hunian hotel di Benua Kuning merosot sebesar 43% antara Juni 2019 hingga Juni 2020 menjadi 38%, menurut STR, penyedia data industri hotel.

“Saya belajar sejak lama untuk tidak pernah khawatir tentang hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan,” kata Bill Heinecke, seorang Thailand kelahiran AS yang mengelola hotel dan restoran Minor International. “Yang bisa saya kendalikan adalah respons kami terhadap krisis. Kami mulai memberhentikan orang lebih awal. Bahaya terbesar dalam krisis ini adalah panik dan saya yakin kami tidak melakukannya. Jika Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, lakukan dengan cepat.”

Sekarang, pengganda pariwisata yang mendorong pertumbuhan Asia bekerja sebaliknya. Dengan kata lain, untuk setiap 1 juta dolar AS yang hilang dalam pendapatan pariwisata , berimbas pada turunnya pendapatan nasional suatu negara sebesar 2 juta hingga 3 juta dolar AS, karena efek sampingan pada sektor ekonomi lain yang memasok barang dan yang dicari para pelancong saat berlibur, menurut United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).

UNCTAD sendiri memperkirakan bahwa keruntuhan mendadak pariwisata global dapat menyebabkan kerugian hingga 3,3 triliun dolar AS pada tahun ini ketika sektor-sektor lain yang terkena dampak diperhitungkan, atau 4,2% dari produk domestik bruto global, dan itu jika penurunan hanya berlangsung 12 bulan. “Untuk sebagian besar dunia (termasuk Asia), perjalanan telah menjadi pendorong ekonomi yang besar,” ujar Chetan Kapoor, salah satu pendiri Videc, sebuah perusahaan analitik yang berfokus pada industri perjalanan.

Bisnis turis di sebagian besar negara mencoba untuk mengatasi badai dengan kombinasi dukungan dan kecerdikan pemerintah. Thailand telah mengatur ulang dan meningkatkan hari libur untuk mendorong pariwisata domestik. Pemerintah setempat bahkan mengumumkan akomodasi hotel bersubsidi 720 juta dolar AS dari anggaran negara, bagian dari promosi yang dijuluki ‘We Travel Together’.

Sementara karantina mewah baru menjadi industri sejak empat bulan lalu, sekarang Negeri Gajah Putih hanya memiliki kurang dari 5.000 kamar hotel pribadi, memberikan alternatif mewah untuk fasilitas berbayar negara yang lebih ketat. “Kami memelopori alternatif untuk karantina dengan menawarkan layanan hotel yang sebenarnya,” tutur kata Bruno Huber, General Manager Mövenpick BDMS Wellness Resort Bangkok.

Meski kecerdikan dapat membantu beberapa bisnis menghadapi badai untuk sementara waktu, hal itu saja tidak akan mengembalikan kedatangan wisatawan jarak jauh. Pembicaraan tentang ‘gelembung perjalanan’ antara negara-negara tetangga tidak banyak membuahkan hasil, selain Malaysia dan Singapura yang membuka kembali perbatasan mereka pada Agustus. Pemerintah Thailand memang akan membuka area tertentu secara tentatif pada 1 Oktober, namun turis masih akan dikarantina selama 14 hari dan pergerakan mereka dibatasi.

Thailand mungkin memiliki respons yang patut dicontoh, dengan tidak ada kasus yang ditularkan sejak Maret, kurang dari 3.400 kasus dan 58 kematian. Namun, biaya ekonomi dari tindakan ketat tersebut, termasuk larangan total bagi pelancong asing, sangat besar. Beberapa percaya bahwa sebanyak 8,4 juta orang akan menjadi pengangguran. Organisasi Perburuhan Internasional memprediksi 6 juta pekerja di sektor perhotelan Thailand akan kehilangan pekerjaan karena COVID-19. Kerusakan tersembunyi terletak di sektor informal, termasuk pekerja seks komersial.

Menghadapi kehancuran ekonomi, sejumlah tujuan wisata harus menghadapi kalkulus berapa banyak kasus, dan kematian, yang bersedia mereka toleransi dengan imbalan tetap buka. Otoritas lokal sering kali terkutuk jika melakukannya dan akan dihukum jika tidak, dengan karantina selama dua minggu cenderung tidak terlalu menarik bagi wisatawan internasional. Namun, alternatif lainnya tidak kalah suram, karena turis juga cenderung menghindar dari wabah virus corona.

Bali, salah satu tujuan pantai paling populer di Asia, adalah salah satu tempat wisata yang mencoba untuk menyulap dua tujuan yang mungkin tidak bakal dapat didamaikan, yakni menghindari wabah, sementara pada saat yang sama mencegah keruntuhan ekonomi dari motor tunggal ekonominya. Pada bulan Juni, hanya 10 pengunjung asing yang melewati Bandara I Gusti Ngurah Rai, dibandingkan 527 ribu kedatangan pada bulan Januari. Resor hampir kosong, meskipun bulan Juli dan Agustus menjadi liburan musim panas di belahan bumi utara.

Melihat bahaya keruntuhan ekonomi, Gubernur Bali, Wayan Koster, pada awal Juli kemarin mengumumkan pembukaan kembali pulau secara bertahap. Pada 9 Juli, beberapa lokasi wisata mulai dibuka kembali untuk warga lokal. Lalu, akhir bulan, seluruh pulau menyambut kembali pengunjung, tetapi hanya wisatawan domestik. Itu seharusnya berfungsi sebagai jalan untuk dimulainya kembali pariwisata internasional yang semula dijadwalkan pada 11 September.

Namun, penduduk setempat menganggap langkah itu tidak bijak. Pasalnya, kasus virus corona meningkat dalam beberapa minggu terakhir, dengan beberapa pemandu lebih berhati-hati ketika menghabiskan waktu dengan orang asing, karena infeksi tetap tidak terkendali. “Saya menyesali keputusan pemerintah. Saya berharap mereka menunggu lebih lama (sebelum dibuka kembali),” kata Anton, salah satu tour guide lokal.

Penduduk setempat prihatin dengan betapa transparannya pemerintah daerah dalam upaya mmenyambut wisatawan internasional, berbanding terbalik dengan pengujian COVID-19. Pada 24 Agustus, Bali melaporkan 4.576 kasus virus corona dan hanya 52 kematian, sedangkan kasus di Indonesia secara keseluruhan mencapai 155.412 dengan 6.759 kematian. Berbeda dengan episentrum nasional Jakarta yang melacak tes secara harian, Bali tidak melakukannya. “Kegiatan pengujian di Bali ‘misterius’. Banyak daerah yang tidak mau meningkatkan kapasitas pengujian karena mungkin mereka pikir itu bisa membuat mereka tidak ditetapkan sebagai ‘zona merah,” papar Pandu Riono, ahli epidemiologi Universitas Indonesia.

Beberapa menteri kabinet sempat mengunjungi pulau itu selama paruh pertama Agustus sebagai bagian dari kampanye pembukaan kembali pariwisata. Namun akhirnya, tanpa izin penerbangan bagi pengunjung internasional, Bali mundur. Wayan Koster sendiri mengakui bahwa pemerintah tidak dapat membuka kembali pintu masuk wisatawan internasional hingga akhir tahun 2020, karena Indonesia masih dalam kategori zona merah.

Eksperimen serupa dengan Bali terjadi di seluruh Asia. Namun, seperti di Pulau Dewata, program-program ini kerap menjadi kontroversi. Vietnam membuka perjalanan domestik setelah berminggu-minggu tidak ada kasus COVID-19. Sayangnya, pada bulan Juli, lebih dari 80.000 turis domestik harus dievakuasi dari kota pesisir Danang dan tujuan sekitarnya ketika gelombang kedua kasus melanda wilayah tersebut.

Pada bulan Juli, Jepang meluncurkan sekitar 1,3 triliun yen untuk subsidi perjalanan, sebagai bagian dari kampanye ‘Go To Travel’ yang bertujuan untuk memberikan bantuan bagi industri perhotelan yang dilanda pandemi. Namun, Tokyo segera mengurungkan program tersebut, karena takut akan wabah baru. Menteri perjalanan dan pariwisata juga mendesak sekelompok besar orang untuk menahan diri agar tidak bepergian bersama.

Jepang sendiri sedang mencari pariwisata domestik untuk menyelamatkan beberapa proyek investasi tinggi yang menghadapi penundaan dan kemungkinan pembatalan. Satu tempat yang dirasakan adalah Sasebo, kota pelabuhan kecil berpenduduk 250.000 jiwa di Prefektur Nagasaki, yang telah menyaksikan rencana kasino yang dilanda kekacauan imbas pandemi. Sasebo sebelumnya bergantung pada pembuatan kapal dan industri berat terkait.

Satu-satunya tujuan wisata di Asia yang mungkin mendapat manfaat nyata dari peralihan ke perjalanan domestik adalah China. Grup tur Tiongkok biasanya menopang seluruh industri pariwisata Asia, tetapi nafsu berkelana yang terpendam dari kelas menengah negara tersebut dihabiskan di . Tempat wisata populer seperti Hainan kini sedang berkembang pesat. Hunian hotel-hotel di Hainan pada Juli bahkan melampaui tingkat hunian pada periode yang sama tahun lalu, sementara properti jaringan hotel di tujuan rekreasi lain, seperti Chengdu dan Zhengzhou, mencatat tingkat hunian sekitar 80%.

Di beberapa ceruk, pariwisata internasional dimulai kembali secara bertahap. China telah memberikan bantuan ekonomi ke ibukota kasino, Makau, dengan mengizinkan beberapa turis daratan pergi ke sana pada bulan Agustus. Ekonomi Makau sendiri adalah yang paling bergantung pada pariwisata, menyumbang 88% dari PDB-nya, menurut WTTC.

Meski sektor wisata ambruk, namun krisis virus corona ternyata menjadi anugerah bagi lingkungan di banyak daerah. Di Thailand, pariwisata massal sebelumnya telah merugikan satwa liar dan ekosistem setempat. Dengan polutan udara dari kemacetan lalu lintas dan emisi industri yang sangat berkurang selama lockdown COVID-19, warga setempat bisa merasakan udara yang lebih bersih dan formasi awan yang lebih indah yang terlihat.

“Dengan hujan, angin, dan lockdown, kami bernapas sedikit lebih baik akhir-akhir ini di banyak bagian Thailand, meskipun kebakaran hutan dan pembakaran terbuka limbah pertanian terus berlanjut,” tutur Kakuko Nagatani-Yoshida, koordinator regional Program Lingkungan PBB Nikkei. “Kami harus menemukan cara untuk kembali ke tempat yang lebih baik dalam hal kualitas udara setelah penguncian.”

Setelah pandemi ini berakhir, para ahli berpendapat bahwa pariwisata tampaknya tidak akan kembali ke pertumbuhan besar-besaran. Sama seperti pekerja kantoran yang mungkin merasa sulit untuk kembali ke perjalanan pulang pergi, banyak turis yang akhirnya menemukan kegembiraan tinggal lebih dekat dengan rumah.

Ada spekulasi bahwa industri ini mungkin terpecah menjadi ultraluxury untuk beberapa pelancong VIP, dengan resor massal yang melayani lebih banyak turis domestik. Para pelancong asing yang pernah menopang masa depan ekonomi sebagian besar Asia, bisa jadi hanya tinggal kenangan. “Ini akan menjadi jalan yang panjang dan sulit untuk kembali ke keadaan normal,” kata Muqbil, editor sebuah buletin industri wisata.

Loading...