Pamor Aset Safe Haven Meningkat, Rupiah Berakhir Pekan di Zona Merah

harus menutup akhir pekan (18/8) ini di zona merah seiring meningkatnya pamor aset safe haven sehingga cenderung menghindari aset berisiko. Menurut Index pukul 15.51 WIB, mata uang NKRI memungkasi hari ini dengan pelemahan sebesar 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.362 per AS.

Tren negatif rupiah sudah berlangsung sejak awal dagang dengan dibuka turun 10 poin atau 0,07% di posisi Rp13.368 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.366 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.28 WIB, spot masih tertahan di zona merah setelah melemah 2 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.360 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS bertahan di zona hijau di tengah meningkatnya pamor aset safe haven seperti yen Jepang. Setelah dibuka dengan kenaikan sebesar 0,091 poin atau 0,10% di level 93,622, mata uang Paman Sam kembali naik 0,025 poin atau 0,03% ke posisi 93,647 pada pukul 09.39 WIB. Sementara, yen lanjut menguat 0,12 poin atau 0,11% ke 109,45 yen per dolar AS.

Mata uang greenback bergerak ke posisi yang lebih rendah terhadap yen akibat terbebani oleh berlanjutnya kekhawatiran investor mengenai kemampuan pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, untuk mendorong agenda kebijakan ekonominya. Selain itu, spekulasi mengenai kemungkinan mundurnya Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Gary Cohn, turut mengguncang pasar.

“Ini adalah perdagangan yang murni karena menghindari aset berisiko,” ujar Kepala Perdagangan di Asia Pasifik untuk Saxo Market, Tareck Horchani, seperti dikutip dari Reuters. “Pasar Asia mengekor pelemahan yang terlihat di pasar AS, namun sentimen yang menekan aset berisiko ini tidak akan bertahan lama, karena ada kabar bahwa Cohn tetap berada di posisinya.”

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp13.368 per dolar AS, menguat 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.374 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya versus greenback, dengan pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan dan peso Filipina yang masing-masing anjok 0,35%.

Loading...