Otot Dolar AS Kendur Usai Hasil FOMC, Rupiah Ambil Momentum

melanjutkan tren penguatan pada perdagangan akhir pekan ini. Menurut data Index, hari ini (29/1), dibuka menguat 0,34 persen atau 47 poin ke level Rp13.826 per AS. Garuda diprediksi mempertahankan tren positif ini seiring terkoreksinya kurs dolar AS usai mempertahankan tingkat suku bunga pertama.

“Para pelaku pasar kembali dilanda kekhawatiran pasca-The Fed selaku pengambil kebijakan moneter di AS menyatakan soal kondisi ekonomi yang masih menurun,” papar Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. “Ini secara tak langsung memberikan sinyal negatif kepada para .”

Reza memprediksi, rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak pada support Rp13.897 serta resisten Rp13.45. “Jika penguatan masih dapat dilanjutkan, maka peluang dolar AS kembali melemah juga akan besar,” sambungnya.

Pendapat senada diutarakan oleh Research and Analyst Monex Investindo Futures, Faisyal. Menurutnya, otot dolar AS saat ini sedang mengendur karena dipicu hasil rapat yang menyebut The Fed akan terus memantau risiko akibat gejolak . “Momentum ini dimanfaatkan rupiah untuk menguat. Sayangnya, dari dalam negeri nyaris tidak ada faktor penggerak,” ujarnya.

Namun ia menambahkan, rupiah masih bisa melemah jika klaim pengangguran dan penjualan rumah di AS membaik. “Rupiah bisa melemah ke Rp13.780 hingga Rp13.900 per dolar AS,” sambung Faysal.

Sementara, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut penguatan rupiah bisa bertahan selama harga minyak dan perekonomian Cina stabil. Apalagi, hasil FOMC masih akan menekan dolar AS. Ia memprediksi, rupiah menguat ke rentang Rp13.800 hingga Rp13.950 per dolar AS.

Loading...