Opsi Cabut Subsidi Mengemuka, Harga Minyak Solar Tetap

Harga Minyak Solar - www.cnnindonesia.com

JAKARTA – Selain premium dan kerosin, telah memutuskan untuk tidak menaikkan solar, setidaknya selama periode bulan Juli sampai September 2017. Meski demikian, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan opsi untuk membuat harga BBM solar mengikuti pergerakan harga minyak dunia atau membuka peluang pencabutan subsidi solar pada tahun depan.

Berdasarkan Keputusan Menteri No. 2304 K/12JMEM/2017, harga Bakar Minyak (BBM) jenis solar, premium, dan kerosin tak mengalami perubahan harga untuk tiga bulan ke depan. Dengan demikian, harga minyak solar tetap berada di angka Rp5.150 per liter dengan subsidi tetap sebesar Rp500 per liter.

Mengenai wacana pencabutan subsidi, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengakui bahwa dilematis jika harga solar dilepas mengikuti harga minyak dunia. Pasalnya, dan jasa bisa terdistorsi tanpa ada yang mengetahui biaya aslinya. “Apakah minyak solar ini perlu mengikuti fluktuasi kenaikan harga minyak mentah atau tetap kami dukung supaya mengurangi distorsi biaya transportasi yang akibatnya bisa memengaruhi biaya hidup yang lebih tinggi,” katanya seperti dikutip dari CNN.

Untuk tahun 2017 ini, pemerintah masih menganggarkan subsidi solar sebesar Rp500 sampai Rp1.000 per liternya. Sementara, volume subsidi menurun dari 16 juta kiloliter menjadi 14,85 juta kiloliter hingga 15,62 juta kiloliter. “Untuk subsidi solar tahun depan, tetap kami usulkan sebesar Rp500 sampai Rp1.000 per liter,” sambung Jonan.

Sementara itu, Center for Strategic and Studies (CSIS) menilai saat ini sebenarnya merupakan waktu yang tepat bagi pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan pencabutan subsidi pada BBM jenis solar. Hal ini mengingat harga minyak sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan meski memang telah mengalami peningkatan.

“Seharusnya, pencabutan subsidi solar ini sudah dilakukan sejak tahun lalu ketika harga minyak dunia sedang mengalami kejatuhan di level terendah,” kata Kepala Departemen CSIS, Yose Rizal Damuri. “Namun, jika dilakukan saat ini, tidak akan jadi persoalan. Jangan sampai pemerintah terlambat mengambil kebijakan ketika harga minyak sedang rebound.”