OECD: Utang dan Pengetatan Moneter Bakal ‘Guncang’ Negara Berkembang

Negara Berkembang - www.habibullahurl.com

TOKYO – Banyak negara berkembang yang saat ini getol melakukan . Sayangnya, banyak dari dana untuk tersebut berasal dari utang luar negeri. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pun memperingatkan bahwa utang yang tinggi akan meningkatkan risiko bunga dan pengetatan kebijakan moneter bakal menaikkan prospek guncangan finansial bagi negara-negara tersebut.

“Negara-negara yang memiliki banyak utang mungkin lebih rentan terhadap gejolak finansial dan riil, dan utang semacam itu dapat merusak keberlanjutan pertumbuhan dalam jangka menengah,” tulis OECD dalam sebuah yang dikutip . “Sektor swasta di negara berkembang bakal sangat ‘terluka’ jika nantinya terjadi guncangan dana.”

Menurut ini, hal tersebut disebabkan oleh struktur kewajiban sektor swasta yang berubah dengan cepat. Sejak krisis melanda pada tahun 2008 silam, bank sentral di sebagian besar negara industri dan negara berkembang telah mengetatkan kebijakan moneter mereka dengan menurunkan suku bunga acuan atau mengambil tindakan yang tidak konvensional, seperti membeli atau surat berharga lainnya.

Tingkat yang lebih rendah ini lantas ‘menggoda’ perusahaan untuk menerbitkan obligasi guna mendapatkan uang tunai, daripada mencari pinjaman di bank . Tren ini pertama kali terlihat di negara maju, namun kemudian menyebar ke negara berkembang. Menurut OECD, penerbitan obligasi kotor oleh perusahaan keuangan non-ekonomi di negara berkembang meningkat 140 persen menjadi 650 miliar dolar AS pada tahun 2016, sedangkan tingkat utang untuk negara maju stabil di kisaran 1,4 triliun dolar AS.

Dengan menerbitkan obligasi, aktivitas di sektor swasta menjadi lebih sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga pasar. Seiring bank sentral di industri besar menurunkan investasi aset mereka, tingkat suku bunga diperkirakan akan meningkat. Hal itu dapat menyebabkan kesulitan pendanaan yang berat bagi perusahaan dan konsumen dengan utang yang menumpuk.

“Dalam jangka panjang, tingginya tingkat utang, meski tidak mengakibatkan gagal bayar, dapat menghambat kemampuan perusahaan (debitur) untuk melakukan pinjaman baru guna membiayai investasi produktif,” sambung organisasi tersebut. “Akibatnya, perusahaan dengan tingkat utang yang terus-menerus tinggi dan keuntungan yang rendah berpotensi tidak mengalami pertumbuhan dan menjadi perusahaan ‘zombie’.”

OECD sendiri memperkirakan kenaikan 3,7 persen pada produk domestik bruto (PDB) global di tahun 2018 mendatang dan pertumbuhan 3,6 persen pada tahun 2019. Pertumbuhan China diprediksi melambat menjadi 6,4 persen di tahun 2019 dari 6,8 persen di 2017. Sementara, pertumbuhan PDB riil Jepang diperkirakan naik satu persen pada tahun 2019, jauh lebih lambat dari tahun ini yang diprediksi 1,5 persen.

Loading...