November Kembali Inflasi, Rupiah Malah Ditutup Melemah

Rupiah - jateng.tribunnews.comRupiah - jateng.tribunnews.com

JAKARTA – harus terbenam di area merah pada Selasa (1/12) sore meski Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang November 2020, Indonesia kembali mengalami inflasi, menandakan pemulihan konsumsi dalam negeri. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 10 poin atau 0,07% ke level Rp14.130 per .

Pagi tadi, BPS melaporkan bahwa selama November 2020, Indeks Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,28% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month). Angka ini tidak jauh berbeda dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia sebesar 1,95% dan Bank Indonesia yang memprediksi terjadi inflasi 0,25%.

“Inflasi inti sebesar 1,23%, sedangkan inflasi secara tahunan (year-on-year/) mencapai 1,59%,” papar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto. “Kenaikan inflasi karena harga makanan dan minuman naik. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 1,15% karena andil harga perikanan, ikan ayam dan tongkol harganya naik.”

Dengan inflasi November 2020, maka tercatat inflasi telah terjadi dalam dua bulan terakhir. Hal ini menandakan adanya pemulihan daya beli di dalam negeri. “Beberapa negara, misalnya Tiongkok masih deflasi, Inggris dan AS 0,0%, Brazil dan Afrika Selatan di Oktober inflasi. Kemudian, di beberapa negara ASEAN, ada yang inflasi seperti Malaysia dan Filipina masing-masing 0,01%, sementara Singapura di Oktober 0,40%,” sambung Setianto.

Sementara itu, dari pasar , dolar AS cenderung berada di bawah tekanan pada hari Selasa, setelah menutup bulan terburuk sejak Juli dengan sedikit penguatan, karena investor memperhitungkan pelonggaran moneter AS yang lebih besar lagi. Mata uang Paman Sam terpantau mengalami depresiasi sebesar 0,150 poin atau 0,16% ke level 91,719 pada pukul 14.51 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, investor memilih meninggalkan greenback karena optimisme tentang uji coba vaksin yang menjanjikan mendorong pembelian mata uang berisiko. Bahkan, kekhawatiran tentang meningkatnya kasus belum menawarkan terlalu banyak dukungan kepada dolar AS, karena spekulasi berkembang bahwa Federal Reserve mungkin bertindak untuk mendukung pada musim dingin yang sulit sebelum vaksinasi dapat mengubah gelombang pandemi.

“Kami menguatkan diri di sini dan bank sentral berpikiran terbuka untuk mengalihkan atau bahkan memperluas program pembelian obligasi,” tutur The Feed Dallas, Robert Kaplan, pada hari Senin (30/11) waktu setempat. “Kami harus mencari tahu apakah itu dalam pertemuan Desember atau pertemuan yang akan datang.”

Loading...