Usai Normalisasi dengan UEA, Israel Terus Bom Jalur Gaza

Kepulan asap akibat ledakan bom di Gaza (sumber: israelhayom.com)Kepulan asap akibat ledakan bom di Gaza (sumber: israelhayom.com)

Selama sepuluh hari terakhir, warga di Jalur Gaza, yang hidup dengan persediaan makanan, listrik, dan air yang terbatas selama bertahun-tahun, harus merasakan serangan dari karena tidak ada negara Arab yang mengutuk kampanye Tel Aviv. Ini terjadi setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan normalisasi hubungan mereka dengan .

Dilansir dari TRT World, Jalur Gaza merupakan kantong yang tidak berada di bawah pendudukan Israel. Namun, sementara Israel dan sekutu Arab mereka sibuk menormalisasi hubungan, Tel Aviv telah menjadikan pemboman harian ke warga sebagai hal normal yang baru di .

“Selama 10 hari terakhir, Israel telah mengebom Gaza setiap malam, meneror penduduk,” ujar Kamel Hawwash, seorang komentator dan profesor Inggris-Palestina, yang merupakan Wakil Ketua Dewan Kebijakan Palestina Inggris (British Palestinian Policy Council/BPPC). “Kesepakatan baru-baru ini untuk menormalkan hubungan antara Israel dan UEA, tidak membawa perdamaian ke jalur itu, melainkan membuat keadaan yang sudah mengerikan menjadi lebih buruk.”

Meskipun Jalur Gaza tidak diduduki oleh Israel, namun telah dikepung hebat oleh militer mereka sejak Juni 2007. Pemboman tersebut memang tidak mengakibatkan kematian, tetapi sejauh ini dilaporkan ada tujuh orang yang cedera. Daerah pertanian, sipil, dan bahkan sekolah menjadi sasaran serangan udara Israel.

Sebuah laporan PBB pada tahun 2012 memproyeksikan bahwa Gaza pada akhirnya akan menjadi ‘tidak dapat dihuni’ pada tahun 2020 jika tren saat ini terus berlanjut. Pada tahun 2020, ketika virus corona yang mematikan tidak hanya menyerang Palestina, yang sudah tidak memiliki peralatan medis dan staf yang memadai untuk melawan pandemi, tetapi juga menyerang seluruh dunia, standar hidup warga Gaza telah merosot lebih rendah.

Namun, di bawah Perdana Menteri , Israel, yang telah melalui tiga pemilihan yang tidak meyakinkan dalam 12 bulan terakhir, tidak berhenti menggempur Gaza. “Di atas kesulitan yang ditimbulkan oleh pengepungan 14 tahun dan tiga perang besar, Israel memilih untuk menyerang secara teratur, termasuk karena alasan ,” sambung Hawwash.

“Baik Israel maupun sekutu Arab mereka yang baru telah mengabaikan penderitaan Palestina saat mereka terus merayakan kesepakatan perdamaian, yang tidak menawarkan apa-apa bagi Palestina,” tambah Hawwash. “Perdamaian sejati hanya bisa dicapai ketika aspirasi rakyat Palestina untuk kebebasan, keadilan, dan kesetaraan terwujud, termasuk pencabutan pengepungan di Gaza dan diakhirinya penggunaan 2 juta warga Palestina sebagai sepak bola politik di tangan Netanyahu.”

Loading...