Neraca Perdagangan Kembali Surplus, Rupiah Berakhir Stagnan

Rupiah - inal knRupiah - inal kn

JAKARTA – Setelah sepanjang hari tertekan, rupiah menutup transaksi Rabu (18/8) di posisi seperti sebelumnya meskipun neraca perdagangan dalam negeri pada bulan Juli 2021 dilaporkan kembali mengalami surplus. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir stagnan di level Rp14.372,5 per dolar AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua Asia mampu mengungguli greenback. Baht Thailand memimpin penguatan setelah melonjak 0,42%, diikuti won Korea Selatan yang 0,19%, peso Filipina yang naik 0,09%, dan yen Jepang yang terapresiasi tipis 0,06%. Sebaliknya, rupee India harus terdepresiasi 0,14%, sedangkan dolar Taiwan turun 0,09%.

Siang tadi, BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2021 kembali mencetak surplus di tengah penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Sepanjang bulan lalu, neraca perdagangan surplus 2,59 miliar dolar AS, dengan kinerja ekspor sebesar 17,70 miliar dolar AS (turun 4,53% secara bulanan) dan impor sebesar 15,11 miliar dolar AS (turun 12,22% secara bulanan).

Dari pasar global, dolar AS sedikit terpeleset walau masih mampu mempertahankan kenaikan luas di terhadap sejumlah kurs pada hari Rabu karena investor telah mengurangi minat terhadap mata uang berisiko, sebagian besar dipicu kekhawatiran penularan virus corona. Mata uang Paman Sam terpantau 0,036 poin atau 0,04% ke level 93,094 pada pukul 11.25 WIB.

“Dolar AS didukung oleh lingkungan risiko yang gelisah,” kata analis mata uang di Bank of Singapore, Moh Siong Sim, dilansir dari Reuters. “Pasar memperhatikan varian delta dan area yang paling menjadi perhatian tampaknya adalah China. Ada pasar saham yang sedikit terpukul baru-baru ini, ada risiko regulasi, dan sekarang ada wabah Covid-19 di China. Apakah ini semua berarti bahwa kita harus lebih memperhatikan risiko penurunan di China?”

Pasar Negeri Panda telah diguncang oleh reformasi dan regulasi yang luas. Pada hari Selasa (17/8), pemerintah setempat bergerak untuk lebih memperketat kontrol atas sektor teknologinya, menerbitkan aturan terperinci yang bertujuan untuk mengatasi persaingan tidak sehat dan keamanan data. Pada saat yang sama, varian delta yang sangat menular telah menemukan pijakan di Selandia Baru yang sebelumnya bebas Covid-19.

Loading...