Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Menguat 6 Poin di Tutup Dagang

Seperti diprediksi sebelumnya, rilis neraca Oktober 2016 yang mencatatkan surplus mampu menjadi sentimen untuk mengatrol gerak rupiah sepanjang perdagangan Selasa (15/11) ini. Menurut Index pukul 15.59 WIB, Garuda mengakhiri perdagangan dengan penguatan tipis sebesar 6 poin atau 0,04% ke level Rp13.369 per AS.

Rupiah sudah menguat sejak awal dagang dengan dibuka naik 25 poin atau 0,19% ke posisi Rp13.350 per dolar AS. Jeda siang, spot kembali terapresiasi 50 poin atau 0,37% ke Rp13.325 per dolar AS. Jelang tutup dagang atau pukul 15.30 WIB, spot masih nyaman di zona hijau dengan naik 54 poin atau 0,40% ke posisi Rp13.321 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik () mengumumkan Indonesia pada Oktober 2016 mencatatkan surplus 1,21 miliar dolar AS, Meski turun sedikit dari realisasi neraca dagang di bulan sebelumnya yang berada di angka 1,22 miliar dolar AS, namun nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan 0,88% dibandingkan bulan September menjadi 12,68 miliar dolar AS.

Sebelumnya, beberapa ekonom mengutarakan bahwa neraca perdagangan Oktober 2016 bakal menentukan pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini. “Rilis neraca perdagangan dalam negeri yang diprediksi masih surplus akan menjadi penentu nilai tukar rupiah,” kata Ekonom Bank Central , David Sumual.

Selain dari dalam negeri, sokongan terhadap kurs rupiah juga berasal dari minyak mentah dunia yang terpantau rebound karena didorong olek ekspektasi penurunan produksi minyak shale dan optimisme baru bahwa OPEC akan mewujudkan pemangkasan produksi. minyak WTI kontrak Desember melesat 0,82 poin atau 1,89% ke 44,14 dolar AS per barel hingga siang tadi.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Hingga jeda siang tadi, yen Jepang dan dolar Taiwan masing-masing terapresiasi 0,34%, sedangkan baht Thailand menguat 0,28%. Di sisi lain, indeks dolar AS justru melemah 0,38% ke level 99,73.

Loading...