Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada transaksi Senin (15/6) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – mampu menjaga posisi di teritori hijau pada transaksi Senin (15/6) sore, ketika bulan Mei 2020 dilaporkan mengalami di tengah ancaman gelombang kedua kasus -19. Menurut catatan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 18 poin atau 0,13% ke level Rp14.115 per dolar AS.

Badan Pusat Statistik () melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan Mei 2020 mengalami surplus sebesar 2,09 miliar dolar AS, lebih baik dari defisit 350 juta dolar AS pada April 2020 serta surplus 210 juta dolar AS pada Mei 2019. Jika dihitung tahun berjalan, neraca dagang mengalami surplus 4,31 miliar dolar AS sejak Januari hingga Mei 2020.

“Surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai 10,53 miliar dolar AS atau turun 13,4% dari bulan April 2020. Sementara, nilai impor hanya mencapai 8,44 miliar dolar AS atau anjlok 32,65% dari bulan sebelumnya,” terang Kepala BPS, Suhariyanto. “Terciptanya surplus ini kurang menggembirakan karena ekspor tumbuh negatif, begitu juga impor yang turun tajam.”

Sementara itu, dari pasar global, indeks dolar AS terpantau jatuh pada awal pekan, setelah kekhawatiran gelombang kedua coronavirus di Beijing mendorong investor untuk menjual mata uang yang sensitif terhadap risiko. Mata uang Paman Sam melemah 0,268 poin atau 0,28% ke level 97,051 pada pukul 11.27 WIB. Kenyataan serupa juga harus dialami dolar Australia dan dolar Selandia Baru.

Seperti diberitakan Reuters, Beijing meningkatkan pengujian setelah kelompok kasus corona baru dikonfirmasi di Xinfadi, yang dikatakan sebagai pasar makanan terbesar di Asia. Sebelumnya, ibukota China melaporkan sedikit kasus selama dua bulan terakhir sampai kasus baru dilaporkan pada 12 Juni dan sejak saat itu jumlah total meningkat menjadi 51 kasus.

Pedagang juga memantau lonjakan kasus coronavirus di , yang menimbulkan kekhawatiran bahwa wabah lain dapat sekali lagi memperlambat global. Beberapa bagian AS memang melaporkan peningkatan rekor dalam kasus virus corona baru dan rawat inap ketika para pejabat mendorong pembukaan kembali mereka.

“Ada pembicaraan bahwa dana lindung nilai dan spekulan jangka pendek lainnya datang ke pasar lebih awal untuk menjual dolar Australia karena ada infeksi baru di Beijing,” kata ahli strategi valuta asing di Daiwa Securities di Tokyo, Yukio Ishizuki. “Semoga ini tidak akan menjadi wabah besar, dan tren ke bawah ini tidak akan bertahan lama.”

Loading...