Neraca Perdagangan Surplus, Rupiah Tetap Berakhir Melemah

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – Rupiah tetap tenggelam di area merah pada transaksi Selasa (15/6) sore menjelang rapat kebijakan , meskipun neraca perdagangan Indonesia bulan Mei 2021 kembali mencatatkan surplus, Menurut paparan Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah 22,5 poin atau 0,16% ke level Rp14.225 per AS.

Sementara itu, mayoritas mata uang di Benua harus bertekuk lutut melawan . Rupee India memimpin pelemahan setelah terdepresiasi 0,27%, diikuti dolar Taiwan yang anjlok 0,16%, yuan China yang melemah 0,08%, dan won Korea Selatan yang turun 0,07%. Sebaliknya, ringgit Malaysia dan baht Thailand berhasil menguat meskipun kenaikannya memang cenderung tipis.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan bulan Mei 2021 mengalami surplus sebesar 2,36 miliar dolar AS, ketika tercatat sebesar 16,6 miliar dolar AS, sedangkan impor sebesar 14,23 miliar dolar AS. Sudah lebih dari setahun neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus, dan surplus Mei ini menjadi surplus tertinggi selama 2021.

“Neraca perdagangan Indonesia Mei 2021 ini kembali surplus 2,36 miliar dolar AS, dan ini lebih tinggi dari bulan April lalu. Jika kita lihat tren, Mei ini yang tertinggi selama 2021,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Secara tahunan, ekspor mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebesar 58,76%, ditopang kenaikan ekspor migas sebesar 66,99 % dan nonmigas sebesar 58,3%.”

Dari global, dolar AS masih melayang di bawah level tertinggi satu bulan terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Selasa menjelang pertemuan Federal Reserve yang sangat diantisipasi, yang dapat menandakan perubahan dalam prospek kebijakan moneter AS. Mata uang Paman Sam terpantau melemah tipis 0,049 poin atau 0,05% ke level 90,473 pada pukul 11.33 WIB.

dihadapkan dengan tindakan penyeimbang yang berjalan di antara transisi dan amukan,” kata kepala ekonomi dan strategi di Mizuho di Singapura, Vishnu Varathan, dilansir dari Reuters. “Pemulihan ekonomi AS yang solid diapit oleh inflasi pada level tertinggi 13 tahun, menuntut semacam pengakuan, jika bukan tanggapan. Euro, dolar Aussie, yen, dan dolar Singapura, semuanya mengarah pada kesadaran tentang risiko kenaikan dolar AS.”

Sejauh ini, pejabat Fed, yang dipimpin oleh Gubernur Jerome Powell, telah menekankan bahwa peningkatan tekanan inflasi bersifat sementara dan pengaturan moneter yang sangat mudah akan tetap berlaku untuk beberapa waktu mendatang. Meskipun begitu, ekonomi baru-baru ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa tekanan dapat memaksa penarikan stimulus sebelumnya.

Loading...