Neraca Perdagangan Surplus, Pelaku Pasar kembali Lirik Rupiah

www.liputan6.com

Jakarta dibuka Terapresiasi 54 poin ke level Rp 13.325 per Dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa pagi (16/2). Sebelumnya, Garuda telah ditutup 111 poin (0,82%) pada penutupan perdagangan Senin (15/2) hingga tembus ke level Rp 13.379 per Dolar AS.

Penguatan Rupiah, sekali lagi, berbarengan dengan beberapa mata uang Asia lainnya, yakni (+0,79%) dan (+0,33%). Meski begitu, Dolar Singapura dan Baht Thailand tak mampu mengikuti jejak Rupiah. Masing-masing melemah 0,05% dan 0,13%.

Kembali menguatnya laju harga minyak mentah dunia menjadi senjata Rupiah untuk membalik posisi terhadap Dolar AS.

“Dari data yang kami peroleh, Minyak WTI sempat hingga USD29 per barel pada perdagangan intraday,” ujar , Kepala Riset NH Securities Indonesia‎ dalam hasil risetnya yang diterima , pagi ini (16/2).

Pulihnya perekonomian Indonesia makin tercium seiring dengan pergerakan nilai tukar Rupiah yang semakin stabil. Apalagi, data neraca perdagangan Indonesia untuk Januari 2016 mencatat surplus sebesar USD 0,05 Miliar, setelah pada Desember 2015 lalu mencatat defisit sebesar USD 0,16 Miliar.

“Perbaikan neraca perdagangan tersebut didukung oleh turunnya defisit neraca perdagangan migas. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus,” ungkap Reza.

Reza mengimbau para pelaku pasar untuk tetap memperhatikan sentimen yang ada untuk mewaspadai potensi pelemahan Rupiah.

“Tetap cermati sentimen yang ada terhadap rupiah. Level support rupiah pada Rp13.500 per USD dan resisten Rp13.300 per USD,” pungkasnya.

Loading...