Neraca Perdagangan Diprediksi Surplus, Rupiah Menguat 3 Poin ke Rp 13.548/USD

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (15/11) di pasar spot exchange dengan penguatan sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 13.548 per . Kemarin, Selasa (14/11) mata uang Garuda berakhir menguat 0,01 persen atau 1 poin menjadi Rp 13.551 per usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.531 hingga Rp 13.566 per .

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,72 persen menjadi 93,812 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB. Pelemahan dolar AS ini dipicu mengenai ketidakpastian reformasi yang diajukan serta performa sektor ekonomi AS untuk mendorong penguatan lebih lanjut.

Menurut para analis kekhawatiran terkait pemotongan pajak perusahaan Amerika Serikat yang bisa ditunda hingga 2019 telah membuat performa Greenback menurun akhir-akhir ini. Di samping itu, para pelaku pasar juga mengkhawatirkan kenaikan suku bunga . Berdasarkan alat FedWatch CME Group, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember 2017 ada di angka 96,7 persen.

Sementara itu, rupiah diprediksi akan bergerak secara terbatas dengan kecenderungan menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (15/11). Gerak rupiah nantinya akan banyak dipengaruhi oleh hasil data neraca perdagangan bulan Oktober 2017 yang dirilis pada hari ini. Menurut Reny Eka Putri, analis pasar uang Bank Mandiri, investor berharap neraca perdagangan Indonesia bisa kembali surplus. Bila benar demikian, maka rupiah diperkirakan dapat menguat terhadap USD meskipun terbatas.

Reny juga mengatakan bahwa investor tengah mencermati data AS yang juga akan dirilis hari ini. Pasalnya data tersebut sangat penting untuk menentukan arah kebijakan pemerintah Amerika Serikat. “Kalau inflasinya naik, itu bisa jadi sentimen tambahan untuk kenaikan suku bunga acuan The Fed,” kata Reny seperti dilansir Kontan.

Di waktu yang bersamaan, pasar juga tengah mencermati rilis data indeks produsen AS. “Alhasil, pergerakan sebagian besar mata uang global cenderung sideways. Penguatan atau pelemahan mata uang jadinya ditentukan lebih ditentukan oleh fundamental domestik masing-masing ,” pungkasnya.

Loading...