Neraca Perdagangan Defisit, Rupiah Semakin Tertekan di Pasar Spot

rupiah - batam.tribunnews.comrupiah - batam.tribunnews.com

Jakarta dibuka melemah 19 poin ke posisi Rp 13.768 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (16/3). Kemarin, Kamis (15/3), ditutup terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp 13.749 per USD usai diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.697 hingga Rp 13.742 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah utama dilaporkan menguat. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, dolar AS menguat 0,46 persen menjadi 90,11 lantaran para investor kini sedang menanti pertemuan Federal Reserve pekan depan yang diperkirakan bakal menaikkan acuan Amerika Serikat.

“Kami pikir dolar sedang konsolidasi menjelang pertemuan Federal Reserve minggu depan,” ujar Eric Viloria, ahli strategi mata uang di Wells Fargo Securities di New York, seperti dilansir CNBC.

Akan tetapi analis memperkirakan jika prospek dolar AS tidak terlalu cerah, terutama di tengah ketidakpastian dalam pemerintahan Donald Trump dan kekhawatiran terkait potensi perang dagang. “The Fed menaikkan suku bunga tiga kali tahun lalu dan dolar AS masih melemah secara keseluruhan. Namun, di tengah rencana kenaikan suku bunga paling tidak dolar AS mendapat tenaga untuk bergerak,” sambung Victoria.

Di sisi lain, dolar AS juga tersokong oleh sejumlah yang positif. Pada Kamis, jumlah penduduk AS yang mengajukan tunjangan pengangguran turun pekan lalu. Selain itu harga barang impor pada bulan Februari 2018 juga dilaporkan naik sehingga meningkatkan ekspektasi pertumbuhan inflasi pada tahun ini.

Rupiah sendiri usai menguat selama 4 hari berturut-turut ternyata kembali harus terlempar ke zona merah lantaran data neraca perdagangan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk bulan Februari 2018 dinyatakan defisit sebesar 870 juta dolar AS. “Neraca perdagangan sudah defisit tiga bulan berturut-turut, ini makin menekan rupiah,” kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, seperti dilansir Kontan.

Rupiah diprediksi masih akan tertekan oleh dolar AS karena jadwal rapat FOMC akan segera diselenggarakan pada 22 Maret 2018 mendatang. Pasar masih mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Loading...