Neraca Dagang Surplus, Rupiah Malah Berbalik Drop di Akhir Senin

Rupiah melemahRupiah melemah pada transaksi Senin (16/3) sore - kumparan.com

JAKARTA – ternyata harus terjungkal ke teritori merah pada transaksi Senin (16/3) sore setelah awalnya dibuka hijau, justru ketika neraca Indonesia dilaporkan mengalami surplus. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah tajam 155 poin atau 1,05% ke level Rp14.933 per AS.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang Februari 2020 kemarin mengalami surplus sebesar 2,34 miliar dolar AS. Surplus ini pada bulan kedua ini utamanya disebabkan oleh penurunan kinerja yang cukup signifikan. Sebaliknya, ekspor dari Indonesia mengalami kenaikan, mencapai 13,94 miliar dolar AS atau naik 2,24% dibandingkan Januari 2020.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp14.818 per dolar AS, terdepresiasi tipis 3 poin atau 0,02% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.815 per dolar AS, sekaligus menjadi rekor terburuk sejak November 2018. DI saat yang bersamaan, mayoritas mata uang lesu, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,92% menghampiri rupiah.

“Jumlah pasien hingga yang tercatat bertambah menjadi 117 orang hingga Minggu (15/3) membuat dolar AS akan semakin berjaya dan memukul rupiah,” tutur analis Monex Investindo Futures, Andian Wijaya, dilansir Kontan. “Langkah investor yang akan lebih memilih mengamankan aset mereka di dolar AS membuat rupiah keteteran.”

Dari global, keuangan terlihat kacau pada hari Senin setelah banyak bank sentral utama dunia bergabung dalam putaran darurat pelonggaran kebijakan yang bertujuan meredam dampak corona pada ekonomi. The Fed baru saja memangkas kembali acuan mereka, sedangkan lima bank sentral lain melakukan hal sama untuk memudahkan menyediakan dolar AS pada lembaga keuangan guna menghadapi tekanan di pasar kredit.

“Bank-bank sentral di seluruh dunia terus bereaksi dengan penurunan suku bunga darurat untuk membantu menghadapi dampak penyebaran virus COVID-19, dengan upaya penanggulangan kesehatan masyarakat yang memerlukan biaya ekonomi yang substansial,” kata kepala ekonom NAB, Alan Oster, dikutip Reuters. “Bank sentral juga secara tepat menyediakan likuiditas tambahan untuk keuangan.”

Loading...