Modal Besar, Konglomerat Etnis Tionghoa ‘Nikmati’ Bisnis di Indonesia

pebisnis - www.merdeka.compebisnis - www.merdeka.com

JAKARTA – Memiliki kekayaan bersih yang lebih tinggi, pengusaha Indonesia dari etnis Tionghoa China kini memang sedang menikmati ‘masa-masa emas’ di sektor perekonomian dalam negeri di era Presiden Joko Widodo. Beberapa pun berlomba-lomba melakukan dengan mendirikan baru atau membeli saham asing.

Nikkei melaporkan, perusahaan dan konglomerat Tionghoa kini memang tengah menikmati sektor yang mudah di era pemerintahan Joko Widodo. Menurut majalah Forbes, sembilan dari sepuluh orang terkaya di Indonesia adalah dari etnis China, dengan memiliki kekayaan gabungan senilai 80 miliar , naik hampir 50 persen dibandingkan tiga tahun lalu berkat kenaikan harga aset dan komoditas.

Pada 22 Desember kemarin, perusahaan Indofood Sukses Makmur mengumumkan bahwa mereka telah membeli saham , Asahi Group Holdings, untuk minuman non-alkohol. Sebelumnya, Lippo Group telah meluncurkan proyek Meikarta pada bulan Mei dan berencana untuk mengembangkan setidaknya 250.000 unit perumahan, bersama dengan sekolah, mal, rumah sakit, dan banyak lagi.

Fenomena tersebut menandakan bahwa para konglomerat yakin akan stabilitas politik Indonesia. Para pengusaha Tionghoa cenderung untuk tetap berada di luar mata publik dan menghindari investasi yang sensitif secara politis, terutama setelah krisis keuangan tahun 1997-1998, ketika hubungan nyaman mereka dengan mantan Presiden Soeharto menimbulkan kemarahan publik.

Presiden Jokowi sendiri memang telah mengurangi batas kepemilikan asing di industri, seperti pariwisata dan e-commerce, yang berpotensi menimbulkan tantangan bagi bisnis konsumen domestik, seperti CT Corp milik Chairul Tanjung yang berencana memperluas rantai taman hiburan dan mal. Pemerintah juga kurang bersahabat dengan pemain luar negeri di sektor seperti pertambangan, dengan memperketat kontrol atas kepemilikan asing atas sumber daya alam mentah.

Serangkaian perusahaan internasional, termasuk Newmont Mining dari A.de. dan Samtan Korea Selatan, telah menjual aset mereka kepada konglomerat lokal. Dalam wawancara dengan Nikkei Asian Review, Presiden tidak menunjukkan tanda-tanda bergeming dengan mengatakan bahwa negara tidak ingin menjual sumber daya alam, dan lebih ingin menjual kepercayaan.

Namun, jika taipan di Indonesia sedang mengumpulkan keuntungan, 82 persen orang dewasa di negara ini malah hanya memiliki kurang dari 10 ribu dolar AS, menurut Credit Suisse Research Institute. Karena Pilkada dan Pilpres sudah semakin dekat, ketidaksetaraan ini dapat memberikan masalah lain di masyarakat, setelah demonstrasi besar melawan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atas tuduhan bahwa orang etnis Tionghoa beragama Kristen itu telah menghina Al Quran.

Anies Baswedan, yang mengalahkan Ahok dalam Pilgub Jakarta pada bulan April, pun tampaknya memanfaatkan kembalinya sentimen anti-China. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa ‘di masa lalu, kita semua penduduk asli telah tertindas dan dikalahkan, dan sekarang mereka bebas dan saatnya menjadi tuan rumah kita sendiri’. Retorika semacam itu bisa membuat hidup menjadi kurang nyaman bagi para konglomerat China.

Loading...