Modal Asing Deras, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - flickr: Kandang vicongRupiah - flickr: Kandang vicong

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Jumat (29/1) sore didukung arus asing ke dalam negeri yang cukup deras serta tingginya untuk aset berisiko. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 47,5 poin atau 0,34% ke level Rp14.030 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate berada di posisi Rp14.084 per dolar AS, menguat 35 poin dari transaksi sebelumnya di level Rp14.119 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia harus bertekuk lutut melawan , termasuk dolar Singapura, yen Jepang, dan yuan China.

Dilansir dari CNBC , salah satu sentimen yang menopang pergerakan rupiah adalah arus modal asing di domestik yang cukup deras. Pada pukul 09.11 WIB, investor asing mencatatkan beli bersih Rp57,47 miliar di , yang mengantar Indeks Harga Gabungan (IHSG) menguat sebesar 0,69%.

Selain itu, pelaku pasar juga merespons rilis data pembacaan pertama angka pertumbuhan ekonomi AS. Pada 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut tumbuh -3,5% atau pencapaian terburuk sejak Perang Dunia II. Namun, angka ini sedikit lebih baik dari konsensus pasar yang memperkirakan -3,6%, sehingga membuat pasar bergairah.

Di sisi lain, dolar AS mampu bergerak positif pada hari Jumat meski peningkatan selera untuk aset berisiko melemahkan permintaan untuk aset teraman, dengan investor bersorak bahwa data ekonomi AS ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,274 poin atau 0,30% ke level 90,729 pada pukul 11.40 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, bursa Wall Street juga memberikan dorongan untuk sentimen, karena saham rebound setelah musim laporan keuangan dimulai dengan awal yang kuat dan kekhawatiran mereda di sekitar hedge fund yang menjual posisi buy untuk menutupi short. Walau greenback masih berada di jalur untuk kenaikan mingguan 0,4%, banyak analis memperkirakan dolar AS akan kembali ke tren penurunan.

“Ekspektasi yang luas dari penerbitan besar yang akan datang dan dukungan dari The Fed berarti bahwa dolar AS akan melemah lebih lanjut untuk jangka menengah,” kata kepala strategi di CMC Markets di Sydney, Michael McCarthy. “Sisi sebaliknya dari pembalikan risk appetite adalah kami melihat dukungan yang baik untuk mata uang komoditas.”

Loading...