Mobilitas Tenaga Kerja di Lingkup ASEAN Jadi Tantangan Terbesar MEA

MEA/AEC

Peluncuran Masyarakat Ekonomi (MEA) pada akhir tahun 2015 lalu menandai tonggak bagi 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara untuk menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi 625 juta orang di kawasan tersebut. Dan, salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah meningkatkan mobilitas di lingkup Asia Tenggara.

Pasalnya, meski tenaga kerja manusia merupakan sumber daya paling penting di ASEAN, namun banyak dari mereka yang justru tidak bekerja di lingkup regional. Tercatat, 10 negara ASEAN telah mengirim sekitar 19 juta pekerja ke wilayah lain. Sementara, hanya 7 juta warga ASEAN yang bekerja di lingkup regional.

Kebanyakan, pekerja ASEAN memang relatif tidak terampil dan tidak memiliki pendidikan formal yang cukup. Kehadiran mereka pun bisa memicu ketenggangan di negara-negara tuan rumah ASEAN.

Untuk mengatasi hal ini dan menciptakan sistem migrasi yang transparan, para pemimpin ASEAN telah menandatangani serangkaian perjanjian pengakuan untuk menutup delapan pekerjaan . Perjanjian ini didasarkan pada asumsi bahwa migrasi di wilayah ini harus dimulai dengan pekerja yang paling terampil untuk mengurangi ketegangan sosial di sekitar arus masuk tenaga kerja.

“Pembuat kebijakan perlu membuat kualifikasi profesional dan akademis di antara lembaga-lembaga pendidikan, , dan negara-negara anggota,” ujar Ekonom Senior di Departemen Ekonomi dan Regional, Asian Development Bank, Guntur Sugiyarto. “Ini untuk memastikan bahwa para pekerja profesional yang ingin bekerja di negara anggota lainnya telah lulus kualifikasi.”

Selain itu, ditambahkan Guntur, masalah besar lainnya yang harus diatasi adalah meningkatkan akses ke pasar tenaga kerja ASEAN dengan membentuk beberapa kemitraan lokal. “Hal ini diperlukan untuk mempromosikan mobilitas intra-ASEAN guna memenuhi kesenjangan antara pemintaan dengan penawaran,” sambung Guntur.

Sebuah survei terbaru dari profesional Indonesia menemukan bahwa minat untuk bekerja di negara-negara ASEAN memang cenderung sedikit. Karena itu, tiap negara harus mempertimbangkan untuk mengembangkan insentif bagi para profesional, seperti meningkatkan gaji atau memberi promosi.

Dengan pasar yang berkembang dan memiliki lebih dari 625 juta konsumen serta domestik bruto gabungan hampir 3 triliun AS, ASEAN memiliki banyak keuntungan dari mobilitas keterampilan. Tanpa itu, bisnis tidak akan berhasil, tidak akan mendapatkan daya saing, dan individu tidak akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan produktivitas.

Loading...