Minim Sokongan Sentimen Domestik, Rupiah Dibuka Melemah

Masih minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat Garuda rawan mengalami koreksi pada awal pekan (20/2) ini. Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali sesi dagang hari ini dengan pelemahan 17 poin atau 0,013% ke Rp13.350 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.30 WIB, spot kembali 14 poin atau 0,11% ke Rp13.347 per dolar AS.

“Akhir pekan kemarin, rupiah sempat melemah imbas dari gejolak dan politik global, terutama dampak dari gejolak di , Eropa, dan Inggris yang menguntungkan dolar AS,” ujar Research and Analyst PT Garuda Berjangka, Sri Wahyudi. “Sementara, dari dalam negeri, setelah mempertahankan suku bunga sebesar 4,75%, belum ada katalis baru yang bisa mendongkrak rupiah.”

Sementara itu, Analis Pasar Uang , Reny Eka Putri, menambahkan bahwa sebenarnya fundamental rupiah masih kuat, apalagi jika , seperti minyak, naik. “Namun, rupiah rentan mengalami aksi profit taking lanjutan sehingga koreksi perlu diwaspadai,” ujar Reny.

Karena itu, Reny memperkirakan rupiah pada awal pekan ini masih berpeluang melemah meski dalam rentang sempit, di kisaran Rp13.300 hingga Rp13.350 per dolar AS. Sementara, Wahyudi memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp13.250 hingga Rp13.450 per dolar AS.

Adapun Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, menambahkan bahwa surat utang negara () masih terus menguat mengikuti sentimen global, tetapi aset lainnya terlihat masih enggan untuk menguat lebih lanjut. Hal itu karena tertahan oleh ketidakpastian politik, mulai dari Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, hingga spekulasi reshuffle kabinet yang juga muncul.

“Meski Bank Indonesia optimistis bahwa harga komoditas akan menekan CAD yang lebih rendah dari prediksi awal, inflasi diperkirakan akan naik mendekati target BI di 2017,” kata Rangga. “Rupiah diperkirakan stabil dengan kecenderungan melemah pada hari ini.”

Loading...