Minim Sentimen, Rupiah Dibuka Melemah & Diprediksi Bakal Bergerak Sideways

Rupiah - eljohnnews.comRupiah - eljohnnews.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 6 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 15.193,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (26/10). Kemarin, Kamis (25/10), kurs Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp 15.187 per USD.

Sedangkan indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,25 persen menjadi 96,6743 usai Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk menahan acuannya untuk zona euro.

ECB menyatakan bahwa suku bunga dasar zona euro tetap di 0,00 persen, dengan suku bunga pinjaman marjinal dan suku bunga deposito tetap masing-masing di angka 0,25 persen dan -0,40 persen. ECB memperkirakan, suku bunga utama akan tetap pada tingkat saat ini, setidaknya sampai musim panas 2019. Selain itu, dalam hal apapun selama diperlukan untuk memastikan konvergensi berkelanjutan inflasi berlanjut ke tingkat di bawah, namun dekat dengan angka 2,0 persen dalam jangka menengah.

Sementara itu, dari sektor , Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan pada Kamis (25/10), pada pekan yang berakhir 20 Oktober 2018, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman berada di angka 215.000, naik 5.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya. Rata-rata pergerakan 4 minggu mencapai 211.750, tidak berubah dari rata-rata yang belum direvisi pada pekan sebelumnya sebesar 211.750.

Kemudian Departemen Perdagangan juga mengumumkan bahwa defisit perdagangan AS dalam barang melebar untuk bulan keempat berturut-turut pada September 2018, sehingga kini mencapai angka 76 miliar dolar AS. Angka ekspor barang-barang AS pada September mencapai 141,0 miliar dolar AS, 2,5 miliar dolar AS lebih tinggi dari ekspor Agustus. Lalu, barang untuk September mencapai 217,0 miliar dolar AS, lebih besar 3,1 miliar dolar AS dari angka Agustus.

Di sisi lain, meski rupiah kemarin sempat menguat berkat AS yang mengalami koreksi dan tingginya permintaan safe haven currency terhadap yen, namun gerak rupiah pekan ini diprediksi terbatas. Menurut Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, rupiah pekan ini bergerak dalam rentang sempit dan cenderung sideways atau turun naik berulang kali. “Masih belum ada momentum besar baru yang dapat menggerakkan baik dari dalam maupun luar negeri. Fokus kini masih terletak pada stabilitas bursa saham ,” kata Putu, seperti dilansir Kontan.

Loading...