Minim Sentimen Domestik, Rupiah Dibuka Melemah Ke Rp 13.511/USD

Jakarta dibuka 0,05 persen atau 7 poin ke level Rp 13.511 per AS pada awal pagi hari ini, Jumat (13/10). Kemarin, Kamis (12/10) mata uang Garuda berakhir menguat 0,19 persen atau 26 poin usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.487 hingga Rp 13.535 per dolar AS.

Sementara itu, kurs dolar As dilaporkan melemah 0,30 persen menjadi 93,008 terhadap sebagian besar mata uang utama di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB lantaran para pelaku kini sedang mencermati sejumlah yang baru saja dirilis.

Berdasarkan data dari Departemen AS, indeks harga untuk akhir meningkat 0,4 persen pada bulan lalu usai mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen pada bulan Agustus 2017. Selama periode 12 bulan hingga September 2017, indeks dilaporkan mengalami kenaikan 2,6 persen.

Pada laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja AS juga mengungkapkan bahwa angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran yang disesuaikan secara musiman mencapai 243.000 pada pekan yang berakhir (7/10), turun 15.000 dari tingkat yang telah direvisi pekan sebelumnya. Sedangkan rata-rata pergerakan selama 4 pekan mencapai 257.500, menurun 9,500 dari rata-rata yang telah direvisi pekan sebelumnya.

Di sisi lain, rupiah kemarin menguat karena terdorong oleh sentimen isi notulensi rapat FOMC yang dirilis pada Rabu (11/10) malam. “The Fed masih sedikit dovish karena takut terhadap hasil inflasi AS yang keluar Jumat ini, padahal data ekonomi lainnya sudah positif,” ujar Research & Analyst Valbury Asia Lukman Leong, seperti dilansir Kontan.

Senada, Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat jika rilis notulensi rapat The Fed tersebut mengakibatkan kurs dollar AS melemah terhadap euro dan poundsterling. Akan tetapi, menurut Josua pelemahan USD sifatnya hanya sementara, sebab inflasi Amerika Serikat diperkirakan memiliki hasil yang positif. Sedangkan dari dalam negeri masih belum ada sentimen penggerak yang dapat mengaruhi posisi rupiah di pasar spot pada akhir pekan ini.

Loading...