Minim Sentimen Domestik, Rupiah Anjlok 64 Poin di Awal Transaksi

rupiah melemah

Minimnya membuat tidak berdaya pada pembukaan awal pekan (13/11) ini. Seperti dituturkan Index, Garuda membuka hari ini dengan pelemahan sebesar 64 poin atau 0,47% ke level Rp13.607 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 27 poin atau 0,20% di posisi Rp13.543 per AS pada perdagangan Jumat (10/11) kemarin.

“Sentimen dari AS berpotensi membuat rupiah mengalami tekanan,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. “Di satu sisi, draft reformasi AS yang ditawarkan oleh pihak partai Republik the Grand Old Party (GOP) menuai sambutan baik. Namun, yield treasury AS yang naik seharusnya membuat indeks greenback tertekan.”

Yield obligasi 10 tahun pemerintah AS pada Jumat lalu kemarin naik 2,4%, sedangkan rencana pajak korporasi yang dibawakan GOP yang lebih ketat daripada draft awal diterima baik oleh pelaku . Josua pun memperkirakan bahwa rupiah masih akan melemah setelah mengalami koreksi signifikan, namun bisa saja menguat jika berbalik menanggapi perkembangan reformasi pajak dengan negatif.

Senada, Research & Analyst Valbury Asia, Lukman Leong, memaparkan bahwa Senat Partai Republik yang menawarkan revisi kebijakan pangkas pajak korporasi yang lebih ketat daripada visi , yakni pangkas korporasi menjadi 20% dari target semulia maksimal 35%, dan penundaan implementasi kebijakan hingga tahun 2019 membuat rupiah terkoreksi. Rupiah juga berpotensi turun karena tidak ada sentimen dari dalam negeri.

Pada perdagangan Senin ini, Lukman pun memprediksi mata uang Garuda akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan tertekan dalam rentang Rp13.510 hingga Rp13.530 per dolar AS. Sementara, Josua menyampaikan bahwa rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran area Rp13.500 hingga Rp13.575 per dolar AS.

Loading...