Minim Sentimen dari Dalam Negeri, Gerak Rupiah Melorot 24 Poin

rupiah - bisnistoday.com

Jakarta membuka pagi hari ini, Kamis (30/11) dengan pelemahan sebesar 24 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp 13.524 per AS. Sebelumnya, Rabu (29/11) rupiah berakhir terapresiasi 0,07 persen atau 10 poin ke level Rp 13.500 per USD setelah bergerak pada rentang angka Rp 13.488 hingga Rp 13.519 per AS.

Sementara itu, indeks dolar AS diperdagangkan bervariasi terhadap sejumlah mata uang utama. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis WIB, dolar AS turun 0,10 persen menjadi 93,799 di akhir perdagangan. Pelemahan the kali ini ditengarai karena para tengah mencerna pertumbuhan Amerika Serikat pada kuartal III 2017.

Departemen Perdagangan melaporkan bahwa perekonomian AS berkembang pada tingkat tahunan sebesar 3,3 persen di kuartal ke-3 tahun 2017 ini, sedikit lebih tinggi dari konsensus pasar yang diperkirakan berada di angka 3 persen. Data (PDB) yang direvisi juga menunjukkan jika ekonomi AS selama Juli-September 2017 tumbuh paling cepat dalam 3 tahun terlepas dari adanya bencana angin topan Harvey dan Irma pada akhir Agustus dan September 2017.

“Ekspansi ekonomi semakin luas berbasis di seluruh sektor dan juga di sebagian besar ekonomi global,” tutur Ketua Federal Reserve Janet Yellen sebelum Komite Ekonomi Bersama Kongres AS, seperti dilansir Xinhua. Berdasarkan tersebut, ekonomi AS diketahui telah berkembang melebihi 3 persen untuk pertama kalinya sejak tahun 2014.

The Fed Beige Book juga menyatakan jika aktivitas ekonomi AS diperkirakan akan mengalami peningkatan dengan kecepatan moderat pada Oktober dan pertengahan November 2017 di 12 distrik The Fed. Dari sektor ekonomi lainnya, angka Pending Home Sales Index naik 3,5 persen menjadi 109,3 pada Oktober 2017. Menurut para analis, tingginya pertumbuhan ekonomi memperkuat ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga The Fed pada Desember depan.

Dari faktor domestik masih belum ada sentimen yang cukup kuat untuk mempengaruhi gerak rupiah. “Sentimen RUU pajak di AS sudah kurang signifikan karena prosesnya terlalu panjang,” kata Lukman Leong, Research & Analyst Valbury Asia. Hari ini beberapa analis memperkirakan jika gerak rupiah berpotensi untuk kembali menguat karena adanya inflow dana asing ke saham dan obligasi selama beberapa hari terakhir.

Loading...