Minim Data Ekonomi Domestik Terbaru, Rupiah Dibuka Melemah

Ruang penguatan rupiah diprediksi mulai terbatas seiring dengan penantian pasar terhadap inflasi Februari 2017 yang diyakini bakal naik drastis. Seperti dilaporkan Index, spot mengawali sesi dagang (27/2) dengan turun tipis 4 poin atau 0,03% ke Rp13.335 per AS. Kemudian, pada pukul 08.40 WIB, mata uang Garuda kembali 12 poin atau 0,09% ke posisi Rp13.343 per AS.

“Sentimen negatif dari angka inflasi Februari 2017 yang diprediksi naik drastis, dipercaya membatasi ruang penguatan rupiah,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Data inflasi yang dijadwalkan bakal dirilis Rabu (1/3) siang diperkirakan berada di angka 3,9% sampai 4% year-on-year, atau naik hampir 50 bps.”

Ditambahkan Rangga, rupiah juga masih terbawa arus global yang terlihat dari penguatannya yang sejalan dengan pelemahan dolar AS di seantero pada Jumat (24/2) lalu. “Namun, penguatan rupiah, yang sejalan dengan turunnya yield SUN, terlihat relatif rendah dibandingkan lain di ,” sambung Rangga.

Sementara itu, Ekonom BCA, David Sumual, menambahkan bahwa ada potensi terjadi ketegangan antara dengan AS, karena menyebut sebagai jawara mata uang. “Hal ini berpotensi menimbulkan gejolak mata uang di China dan berimbas pada mata uang Asia, dan bukan tidak mungkin rupiah bakal terkena dampak negatifnya,” ujar David.

“Sementara, dari dalam negeri, belum ada data ekonomi terbaru sehingga tidak ada sentimen yang bisa menopang kurs rupiah,” sambung David. “Terlebih lagi, sebagian data ekonomi AS yang diumumkan akhir pekan lalu cukup bagus sehingga mendorong dolar AS untuk bergerak menguat.”

Karena itu, David pun memprediksi rupiah bakal bergerak melemah pada perdagangan hari ini, meski dalam rentang terbatas. “Rupiah kemungkinan bergulir di kisaran Rp13.300 hingga Rp13.370 per dolar AS,” tambah David.

Loading...