Ingin Jadi Pemasok Utama Baterai EV, MIND ID Tebus Saham Vale Indonesia

Holding Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID) - nasionalinfo.comHolding Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID) - nasionalinfo.com

JAKARTA – Holding Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID) dikabarkan mengakuisisi 20 persen PT Vale Indonesia, anak perusahaan raksasa pertambangan asal Brasil, Vale, sekaligus operator tambang nikel di Pulau Sulawesi. Akuisisi tersebut dilakukan untuk memperluas kontrol atas nikel karena permintaan untuk komoditas tersebut, yang digunakan sebagai baterai dalam , meningkat.

Seperti diberitakan Nikkei, dalam kesepakatan yang ditandatangani minggu lalu, MIND ID setuju untuk membayar gabungan 390 juta AS atau lebih kepada Vale dan Sumitomo Metal Mining asal Jepang untuk saham Vale Indonesia. diharapkan akan selesai pada akhir tahun. Setelah itu, Vale akan memiliki saham 44,3 persen dan Sumitomo 15 persen, sedangkan sisa saham akan diperdagangkan secara publik.

Kesepakatan ini merupakan bagian dari perjanjian tahun 2014 lalu antara Vale Indonesia dan pemerintah Indonesia yang menetapkan bahwa Vale perlu mendivestasikan 20 persen sahamnya kepada entitas lokal. Ini agar mereka berhak untuk terus beroperasi setelah 2025, ketika kontrak penambangannya dengan pemerintah berakhir.

Nikel sendiri selalu penting bagi perekonomian Indonesia karena merupakan bijih nikel terbesar di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, nikel telah menjadi komoditas yang bahkan lebih strategis. Material tersebut semakin banyak digunakan dalam katoda baterai untuk kendaraan listrik, dan Indonesia tertarik untuk menjadi roda penggerak utama dalam rantai pasokan karena ia meningkatkan kemampuan pemrosesan.

Sebelumnya, ekspor bijih nikel dikaitkan dengan pembangunan smelter dengan banyak penambang harus mendirikan unit pemrosesan. Kemudian, September lalu, pemerintah mengumumkan akan melarang ekspor bijih nikel mulai Januari tahun ini, dua tahun lebih awal dari yang semula direncanakan, untuk mengembangkan industri hilir. Aturan baru mengharuskan penambang untuk memproses bijih di smelter lokal sebelum menjualnya ke luar negeri.

“Kami telah berhasil menambahkan lebih banyak kepemilikan di sektor pertambangan,” kata Menteri BUMN, Erick Thohir, dalam sebuah pernyataan. “Kesepakatan itu adalah bagian penting dalam industri baterai untuk mobil listrik. Nikel memiliki potensi tinggi di masa depan sejalan dengan tren pesat kendaraan listrik di dunia.”

Pemerintahan Presiden Joko Widodo memang gencar mendorong nasionalisasi sumber daya alam negara. Pada tahun 2018 lalu, Indonesia mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi 51 persen saham di unit lokal penambang AS, Freeport-McMoRan, sebesar 3,85 miliar dolar AS. Unit ini mengoperasikan tambang tembaga terbesar kedua di dunia dalam hal output dan merupakan sumber emas teratas di Papua.

Loading...