Menguat Tipis di Awal Dagang, Rupiah dalam Fase Konsolidasi

Usai kenaikan suku bunga , kurs rupiah dalam fase sehingga diprediksi tak banyak bergerak. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali sesi dagang (20/12) dengan penguatan tipis 7 poin atau 0,05% ke Rp13.382 per AS. Kemudian, pada pukul 08.38 WIB, spot berbalik terdepresiasi 1 poin atau 0,01% ke Rp13.390 per AS.

“Kemarin, rupiah menguat tipis karena pelemahan indeks dolar AS akibat aksi ,” ungkap Analis SoeGee Futures, Nizar Hilmi. “Cuma, mata uang Garuda tidak menguat terlalu tajam meski perdagangan periode Januari hingga November 2016 tercatat surplus 7,79 miliar dolar AS.”

Pasalnya, ditambahkan Nizar, rencana The Fed menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun depan masih membayangi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda pun tengah berada dalam fase konsolidasi, sehingga tidak akan naik atau turun terlalu tajam. “Hari ini, rupiah kemungkinan bergulir di kisaran Rp13.350 hingga Rp13.450 per dolar AS,” sambung Nizar.

Senada, Analis Uang , Rully Arya Wisnubroto, memperkirakan bahwa rupiah tak akan banyak bergerak pada perdagangan hari ini karena minim sentimen. “Rupiah kemungkinan berada di rentang Rp13.350 hingga Rp13.425 per dolar AS,” kata Rully.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, meramalkan rupiah berpeluang karena minimnya sentimen positif. Dengan sentimen domestik yang juga didominasi oleh berita negatif, pasokan dolar AS dari menjadi penopang utama bagi pergerakan mata uang Garuda.

“Minimnya sentimen domestik membuat faktor global menjadi dominan untuk penentuan arah rupiah dalam jangka pendek yang diperkirakan masih akan meminta pelemahan,” jelas Rangga. “Fokus pasar pagi ini masih tertuju pada hasil pertemuan yang jika menambah stimulus, imbal hasil obligasi global bisa tertahan kenaikannya.”

Loading...