Mengandung DHA & ARA, Susu Bayi Enfamil Dibanderol Mulai Harga Rp 141 Ribuan

Susu Bayi - Couleur

Tak semua memberikan air susu (ASI) pada buah hatinya dengan beragam alasan. Sebagai gantinya, mereka akan mencari susu formula yang dianggap paling tepat dan mampu mencukupi kebutuhan sang . Dari sekian banyak yang beredar di , Enfamil menjadi salah satu brand sufor yang dicari para ibu. Enfamil memiliki banyak macam susu, mulai dari untuk usia 0-6 bulan, 6-12 bulan, hingga 1-3 tahun.

Produk susu dari Mead Johnson ini telah dikembangkan sejak bertahun-tahun silam. Tak heran jika ada banyak yang ditawarkan oleh Enfamil. Untuk susu formula bayi, salah satu yang paling populer adalah Enfamil A+. Enfamil A+ diklaim mengandung zat gizi seperti DHA dan ARA yang secara alami terdapat dalam ASI. Zat gizi tersebut penting untuk otak dan mata.

Sejak pertama kali diperkenalkan di Hong Kong, Enfamil A+ terus menuai kesuksesan dan akhirnya diperkenalkan di lain mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Amerika, Latin, Eropa, hingga ke Indonesia. Sebagai , berikut ini kisaran Enfamil di pasaran yang ada di Indonesia.

Varian Produk Susu EnfamilHarga
Enfamil A+2 Plain 400gr boxRp 141.300
Enfamil A+ Lactofree 400gr TinRp 154.000
Enfamil A+ 1 Plain 400gr boxRp 155.000
Enfamil A+ Gentle Care 400gr tinRp 165.000
Enfamil A+2 Plain 800gr tinRp 271.000
Enfamil A+ 1 Plain 800gr tinRp 303.900
Enfamil A+ Gentle Care 900gr tinRp 345.000

Terlepas dari berbagai kandungan gizi yang ada di dalamnya, beberapa tahun lalu Enfamil sempat diisukan menjadi penyebab kematian bayi yang ada di Amerika Serikat. Namun usai melalui pengujian ketat oleh otoritas kesehatan yang ada di AS sana, rupanya produk susu formula Enfamil dinyatakan tak mengandung bakteri.

Tak ketinggalan, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Semarang, Jawa Tengah juga sempat melakukan pengujian yang sama pada 25 merek susu formula, termasuk Enfamil. “Hasil uji lab terhadap 25 susu formula sudah dapat kami sampaikan, hasilnya tidak satupun susu formula yang kami uji itu mengandung cemaran bakteri sakazakii,” ujar Supriyanto Utomo, Kepala BPOM Semarang.

Loading...