Menanti Kejelasan The Fed, Rupiah Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (21/9) sore - www.beritasatu.com

JAKARTA – mampu nangkring di area hijau pada Senin (21/9) sore, ketika greenback cenderung mengalami aksi jual ketika investor menantikan kejelasan kebijakan moneter yang diambil . Menurut paparan Index pada pukul 14.57 WIB, Garuda berakhir menguat 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.700 per AS.

Sementara itu, data yang dirilis Bank pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.723 per dolar AS, menguat 45 poin atau 0,30% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.786 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia sukses mengungguli greenback, termasuk rupiah, dolar Taiwan, rupee India, dan baht Thailand.

“Rupiah memang berpotensi melanjutkan penguatan meskipun di rentang yang cenderung sempit,” papar Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Pengetatan sosial pada sepekan terakhir sebenarnya tidak terlalu berdampak signifikan terhadap aktivitas keseharian Jakarta. Di sisi lain, juga menggelontorkan sejumlah stimulus agar konsumsi masyarakat terus berjalan.”

Dari pasar , indeks dolar AS berjuang keluar dari zona merah pada awal pekan, sedangkan yen dan yuan masing-masing naik tipis, karena investor menunggu pidato pejabat Federal Reserve pada minggu ini dan keputusan tentang dimasukkannya obligasi pemerintah China dalam indeks . Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,167 poin atau 0,18% ke level 92,759 pada pukul 11.07 WIB, sebelum naik tipis di sore hari.

Seperti diberitakan Reuters, Gubernur The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan berbicara di depan Kongres AS pada akhir pekan ini, sedangkan anggota komite Fed, Charles Evans, Raphael Bostic, Lael Brainard, James Bullard, Mary Daly, dan John Williams juga memberikan pidato publik. Pendapat mereka tentang bagaimana bank sentral harus menangani pendekatan yang lebih akomodatif terhadap inflasi dapat mendorong penguatan yen lebih lanjut jika mereka mengimplikasikan pengaturan kebijakan moneter yang lebih longgar.

“Yen adalah mata uang yang menarik, saya tidak melihat alasan untuk menjualnya,” kata kepala penelitian di pialang Pepperstone, Melbourne, Chris Weston, mencatat bahwa imbal hasil riil di Jepang positif. “Ini membuat yen sangat menarik, terutama terhadap pound dan dolar AS, ketika kurs riil tidak hanya negatif. Namun, dalam kasus The Fed, mereka secara aktif mencari suku bunga yang lebih rendah.”

Loading...