Mayoritas Mata Uang Asia Lesu, Rupiah Ditutup Stagnan

Meski mayoritas bergerak lesu pada Kamis (10/8) ini, ketika menantikan laporan terbaru data AS, namun ternyata tidak sampai terkena imbasnya. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI menutup hari ini di level Rp13.333 per AS, stagnan dari perdagangan sebelumnya.

Rupiah sebenarnya sempat bergerak lesu di awal dagang dengan dibuka turun 11 poin atau 0,08% di posisi Rp13.344 per dolar AS. Menjelang jeda, spot kembali terdepresiasi 18 poin atau 0,14% ke level Rp13.351 per dolar AS. Posisi mata uang Garuda tidak membaik jelang penutupan dengan melemah 8 poin atau 0,06% ke posisi Rp13.341 per dolar AS pada pukul 15.29 WIB.

Sebelumnya, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, sempat mengatakan bahwa rupiah berpotensi melemah karena dipengaruhi laju inflasi China yang di bawah prediksi. Hal tersebut lantas membuat nilai tukar mayoritas mata uang Asia jeblok. Seperti diketahui, kemarin (9/8) Badan Pusat Statistik Nasional China melaporkan tingkat inflasi Negeri Tirai Bambu naik 1,4% pada bulan Juli 2017, lebih rendah dari estimasi analis yang meramalkan bakal stabil di level 1,5% (year on year).

“Rupiah diperkirakan melemah lantaran terpengaruh inflasi China yang berada di bawah perkiraan ekonom,” kata Josua. “Hal ini mengakibatkan mayoritas mata uang di Benua Asia anjlok. Untungnya, sentimen positif hasil lelang SUN pada hari Selasa (8/8) kemarin masih mampu menopang sehingga rupiah tidak melemah terlalu dalam.”

Saat ini, para pelaku pasar sedang mengambil sikap wait and see jelang laporan data inflasi AS terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (11/8) waktu setempat, demi melihat potensi kebijakan moneter . “Para pedagang cenderung tidak mungkin memberikan gambaran besar jelang laporan data inflasi AS hari Jumat,” ujar head of Asia-Pacific trading di OANDA in Singapore, Stephen Innes.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.338 per dolar AS, terdepresiasi 14 poin atau 0,1% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.324 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia ‘bertekuk lutut’ terhadap , dengan pelemahan terdalam dialami won Korea Selatan sebesar 0,71% dan rupee India sebesar 0,31%.

Loading...