Masyarakat Jerman Masih Suka Pembayaran Tunai, Ini Alasannya

Deutsche Mark - qz.comDeutsche Mark - qz.com

Ketika banyak negara mulai menerapkan sistem pembayaran dengan metode , salah satu negara maju di Eropa, , masih tetap setia melakukan pembayaran dengan sistem tunai. Pasalnya, dengan melakukan pembayaran secara tunai, akan lebih mudah melacak uang dan pengeluaran mereka, serta menghindari risiko utang yang kerap terjadi dengan sistem pembayaran .

Menurut laporan baru-baru ini, rata-rata nilai dompet masyarakat Jerman berjumlah hampir dua kali lipat (senilai USD 123) dibandingkan masyarakat di Australia, AS, Perancis, dan juga Belanda. Sementara, sekitar 80 persen transaksi di negara tersebut dilakukan secara tunai, bahkan untuk transaksi dalam skala besar.

“Sekilas, saku orang Jerman memberi ‘sinyal’ tentang tingkat pengeluaran dan anggaran yang tersisa. Dengan porsi pengeluaran yang besar, maka ‘sinyal’ akan tinggi,” tulis analis ECB (European Central ) mempelajari fenomena tersebut. “Kami menduga bahwa bagi beberapa , ‘sinyal’ ini berharga dan oleh karenanya mereka memilih menggunakan uang tunai.”

Di samping itu, salah satu penyebab kenapa masih banyak orang Jerman menggunakan uang tunai adalah faktor historis. Seperti diketahui, nilai tukar Jerman pernah tidak berharga di abad ke-20. Selama hiperinflasi era Weimar yang memuncak pada tahun 1923, naik sekitar satu triliun kali lipat karena Jerman berusaha membayar reparasi perang yang berat dengan nilai devaluasi.

Menurut para peneliti, kenangan akan hiperinflasi memang cukup membekas. Orang-orang di negara yang pernah menderita krisis perbankan, cukup bijak untuk memilih menabung secara tunai, meski biasanya dalam bentuk mata uang asing seperti AS, ketimbang memasukkan uang mereka ke bank. Jerman mungkin seperti Bulgaria dan Rumania, yang memiliki ketidakstabilan dan baru-baru ini mengalami krisis keuangan, sehingga cukup banyak masyarakat yang menggunakan uang tunai.

Selain faktor historis, alasan lain kenapa masyarakat Jerman lebih memilih menggunakan uang tunai adalah mereka membenci utang. Tingkat utang konsumen di Jerman memang rendah. Keengganan Jerman terhadap utang hipotek merupakan bagian dari alasan mengapa negara ini memiliki beberapa tingkat kepemilikan rumah terendah di negara maju. Hanya 33 persen orang Jerman mengatakan bahwa mereka memiliki kartu kredit pada tahun 2011. Sementara, pada tahun 2013, hanya 18 persen pembayaran di Jerman dilakukan melalui kartu kredit.

Namun, preferensi nasional untuk uang tunai tampaknya merupakan sisi lain dari keengganan terhadap utang, yang pada gilirannya dapat ditafsirkan sebagai pertanda keraguan mendalam tentang masa depan. Ketakutan akan masa depan ini, tentu saja, berakar di masa lalu. Dengan kata lain, kecenderungan Jerman untuk menggunakan pembayaran tunai tidak dapat disangkal mencerminkan fakta bahwa selama setengah abad terakhir, mereka telah berada di ambang, di tengah, atau berjuang untuk pulih dari bencana.

Loading...