Masih Tergerus Notulensi FOMC, Rupiah Anjlok 43 Poin di Akhir Pekan

Sesuai prediksi, harus rela menutup akhir pekan ini (20/5) di zona merah. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda di level  Rp13.608 per AS, terdepresiasi 43 poin atau 0,32% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.565 per AS.

Pelemahan rupiah sudah terjadi sejak dibuka pada pagi hari dengan terdepresiasi 29 poin atau 0,21% di level Rp13.594 per dolar AS. Ketika mata uang ASEAN lainnya mulai lepas dari efek , rupiah tetap 6 poin atau 0,04% ke Rp13.571 per dolar AS. Bahkan saat dolar AS mulai beranjak turun 0,08% ke posisi 95,207 pada pukul 14.20 WIB, rupiah malah anjlok 52 poin ke Rp13.617 per dolar AS.

Menurut Ekonom Permata, Josua Pardede, pelemahan rupiah memang masih dipengaruhi oleh hasil notulensi FOMC (Federal Open Market Committee) meeting yang membuat panik serta harga minyak yang belum begitu stabil. “Sebenarnya, data AS tidak begitu bagus. Namun, hasil notulensi FOMC tersebut membuat panik dan kemudian berburu dolar AS,” ujarnya.

“BI rate yang dirilis kemarin dengan tetap mempertahankan tingkat di 6,75% seharusnya bisa memberikan sentimen positif bagi mata uang Garuda,” sambung Josua. “Namun, faktor eksternal ternyata lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan faktor internal.”

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menilai bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir ini tergolong wajar. “Pelemahan rupiah ini hanya akan terjadi sementara waktu hingga rapat FOMC berikutnya yang diharapkan memberikan kepastian pada pasar,” papar Agus.

Loading...